ACDM Hari Ketiga: Kerjasama EAS pada Penanggulangan Bencana

SEMARANG - Pertemuan hari ini (28/4) membahas dua agenda. Pertama, agenda mengenai visi ASEAN 2025 tentang penanggulangan bencana dan program kerja ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response (AADMER) 2016 – 2020 dan kedua, implementasi Perangkat Tanggap Darurat atau East Asia Summit (EAS) Rapid Disaster Response Toolkit. Mitra negara yang turut dalam pembahasan sesi hari ini dari Amerika Serikat, Australia, Jepang, Selandia Baru, serta dukungan Sekretariat ASEAN dan AHA Centre.

Sehubungan dengan EAS Rapid Disaster Response Toolkit, pembahasan forum terfokus pada toolkit atau perangkat 1 dan 3. Perangkat 1 merupakan Tabel National Focal Point yang berisi informasi instansi resmi dari setiap negara anggota EAS yang bertanggung jawab pada tingkat nasional dan internasional untuk memberikan tawaran dan permintaan bantuan dari pihak internasional. Perangkat 3 merupakan informasi mengenai pengaturan response negara yang terdampak bencana untuk memberikan informasi rinci mengenai mekanisme respon yang mungkin diberikan oleh setiap negara anggota EAS.

Ketua Delegasi Indonesia, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Wisnu Widjaja menyatakan bahwa mendukung usulan perkembangan pada perangkat 1 dan 3 tersebut. “Dengan ini diharapkan fase kesiapsiagaan terhadap bencana yang bersifat onset atau sesuatu yang akan terjadi dan berada di antara lintas negara dapat kuat dan terkoordinasi dengan baik,” kata Wisnu Widjaja. Menurutnya, salah satu contoh yang dapat dilakukan adalah melalui kerjasama mobilisasi Emergency Medical Team (EMT).

Sementara itu, terkait dengan peran focal point setiap pemerintahan yang tergabung dalam EAS, Pemerintah Indonesia mendukung terselenggaranya kerjasama antara focal point untuk saling berbagi pengetahuan dan informasi. Di samping itu, “koordinasi perkuatan kerjasama dalam rangka tanggap darurat agar lebih efektif”, kata Wisnu Widjaja. Konteks kerjasama tersebut terbuka untuk perkuatan koordinasi antara sipil-militer di tingkat nasional dan internasional. 

Pada akhir sesi hari ini, BNPB berbagi informasi mengenai rencana Table-top Exercise (TTX) dalam rangka menguji EAS toolkit tersebut yang rencananya akan berlangsung pada November 2016 di Ambon, Maluku. Skenario TTX antara lain akan  menguji mekanisme  perlindungan  warga negara asing bila terjadi tsunami.  Hal ini menjadi penting dilakukan mengingat ASEAN, sebagai kawasan destinasi pariwisata dunia dan pertumbuhan ekonomi global, juga merupakan kawasan yang rawan bencana. Kemampuan ASEAN dalam memberikan perlindungan bagi warga negara asing dalam kunjungannya di ASEAN niscaya akan memberikan dampak positif bagi rasa aman dan pertumbuhan ekonomi ASEAN. 

Beberapa catatan selama sesi ini terkait kerjasama EAS, antara lain dari AHA Centre yang sangat setuju untuk menguji coba perangkat pada saat latihan nanti. Berbagi pengalaman tidak hanya pada sisi penerimaan, tetapi juga pemberian bantuan, misalnya saat ASEAN memberikan bantuan ke negara-negara EAS dan ASEAN menerima bantuan dari negara-negara EAS. Sementara itu, lembaga penanggulangan bencana Amerika Serikat atau FEMA telah mendistribusikan perangkat tersebut kepada kementerian terkait di negaranya. Mereka menerima dan FEMA sekarang sedang dalam proses memperbaiki prosedur standar untuk menyesuaikan dengan perangkat tadi.

Related posts