23

2018-04

BNPB dan UGM Melanjutkan Pemasangan LEWS pada Daerah Berisiko Tinggi

JAKARTA – BNPB bekerja sama dengan UGM melanjutkan pemasangan sistem peringatan dini longsor (LEWS) di tahun 2018 ini. Upaya tersebut diwujudkan kedua belah pihak melalui penandantangan kerja sama penerapan sistem peringatan dini, yang berlangsung pada Kamis (5/4) di Kantor Pusat UGM, Yogyakarta.

Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Wisnu Widjaja menandatangani perjanjian kerja sama dengan UGM dalam penerpaan sistem peringatan dini longsor atau pergerakan tanah (landslide early warning system/LEWS). Pada pembukaan acara, Wisnu menyampaikan bahwa BNPB dan UGM telah melakukan kerjasama penerapan sistem peringatan dini bencana jangka panjang sejak 2007. LEWS yang merupakan integrasi sistem teknis dan sosial didukung oleh Pusat Unggulan dan Inovasi Teknologi Kebencanaan (GAMA-InaTEK) UGM dan PT. Gama Multi Usaha Mandiri (GMUM).

“Bangsa Indonesia harus percaya diri dengan kemampuan dan pengalamannya dalam menerapkan teknologi kebencanaan karya anak bangsa. Upaya keras ini telah mendapat pengakuan internasional dengan terbitnya ISO 22327 tentang implementasi sistem peringatan dini gerakan tanah berbasis masyarakat pada 16 Maret 2018 lalu di Sydney Australia,” tambah Wisnu.

“Ini merupakan ISO pertama yang diajukan oleh Indonesia yang merupakan kerjasama BNPB-BSN-UGM-BMKG. BNPB tetap berkomitmen untuk mendukung dan mendorong upaya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha dalam mengurangi risiko bencana secara berkelanjutan.”

Saat ini, BNPB berupaya menurunkan indeks risiko bencana Indonesia. Fokus penerapan 19 sistem peringatan dini gerakan tanah pada tahun 2018 adalah di berbagai daerah risiko tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia. BNPB berharap agar upaya ini juga diikuti oleh BPBD dan pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam rangka pengurangan risiko bencana di daerahnya. Untuk mendukung upaya ini, BNPB dan UGM juga mengadakan acara sosialisasi pada bulan minggu ke-2 April 2018 di Surabaya yang dihadiri BPBD yang akan terlibat.

Selanjutnya Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni UGM Dr. Paripurna Sugarda juga menyampaikan ungkapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas dukungan dan kepercayaan BNPB terhadap penggunaan produk-produk penelitian antar disiplin di bidang kebencanaan yang telah dibangun Fakultas Teknik UGM. Diharapkan inovasi teknologi di bidang kebencanaan terus dikembangkan tidak hanya bencana longsor tetapi juga berbagai bencana lainnya dan dapat diaplikasikan di dalam dan luar negeri. Dan kerjasama ini merupakan wujud peran aktif UGM dalam pengurangan risiko bencana di Indonesia. Pada tahap selanjutnya, UGM akan membangun teaching industry yang mengintegrasikan inovasi teknologi hingga manufaktur.

Sepanjang tahun 2008-2017, UGM bekerjasama dengan BNPB dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah melaksanakan penerapan sistem peringatan dini bencana gerakan tanah di 80 daerah rawan longsor di 25 propinsi di Indonesia. Sistem peringatan dini gerakan tanah yang diterapkan terdiri atas tujuh sub-sistem utama sebagai berikut, yang juga telah diusulkan menjadi SNI (Standar Nasional Indonesia): (1) penilaian risiko; (2) sosialiasi; (3) pembentukan tim siaga bencana; (4) pembuatan panduan operasional evakuasi; (5) penyusunan prosedur tetap; (6) pemantauan, peringatan dini dan geladi evakuasi; (7) membangun komitmen otoritas lokal dan masyarakat dalam pengoperasian dan pemeliharaan keseluruhan sistem. Dengan demikian penerapan sistem ini merupakan pendukung terbentuknya Desa Tangguh Bencana (Destana) yang merupakan cikal bakal terwujudnya ketangguhan bangsa.

 

UNISDR (2006) menyebutkan bahwa suatu sistem peringatan dini yang lengkap dan efektif terdiri atas empat unsur kunci yang saling terkait, mulai dari (1) pengetahuan tentang risiko, (2) pemantauan dan layanan peringatan, (3) penyebarluasan dan komunikasi, hingga (4) kemampuan merespons. Penerapan sistem peringatan dini yang berbasis masyarakat harus memperhatikan hubungan antar-ikatan yang kuat dan saluran komunikasi yang efektif di antara semua unsur tersebut. Tujuan dari pengembangan sistem peringatan dini yang terpusat pada masyarakat adalah untuk memberdayakan individu dan masyarakat yang terancam bahaya untuk bertindak dalam waktu yang cukup dan dengan cara-cara yang tepat untuk mengurangi kemungkinan terjadinya korban luka, hilangnya jiwa, serta rusaknya harta benda dan lingkungan.

 

Menurut data BNPB sepanjang tahun 2016 dan 2017, bencana longsor merupakan tiga besar bencana yang sering terjadi di Indonesia setelah banjir dan angin puting beliung. Bencana longsor merupakan bencana yang paling mematikan dengan jumlah korban jiwa yang ditimbulkan sebanyak 186 jiwa dari total korban bencana sebanyak 521 jiwa sepanjang tahun 2016. Pada tahun 2017 tercatat 2.372 kejadian bencana alam, yang mengakibatkan 377 korban jiwa dan 3,49 juta jiwa terdampak dan mengungsi, dimana jumlah kejadian tanah longsor menempati urutan ketiga setelah banjir dan puting beliung.

 

Data BNPB menunjukan bahwa sekitar 40 juta warga negara Indonesia tinggal di daerah kerentanan longsor sedang hingga tinggi, sehingga perlu prioritas penanganan pengurangan risiko bencana. Salah satu cara untuk mengurangi risiko tersebut adalah dengan merelokasi warga yang tinggal di daerah rentan, namun relokasi ini sangat sulit dilakukan, karena resistensi dari aspek sosial-ekonomi-budaya di masyarakat dan terbatasnya anggaran. Upaya pengurangan risiko bencana yang efektif dilakukan pada kondisi ini adalah dengan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat melalui penerapan sistem peringatan dini.

Menilik sejarah terciptanya alat-alat deteksi dini gerakan tanah oleh UGM telah dimulai sejak tahun 2007-2008, dimana Bakornas-PB waktu itu (saat ini menjadi BNPB) dan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) ikut membidani lahirnya generasi pertama sistem peringatan dini sederhana buatan UGM yang dipasang di Kabupaten Banjarnegara, Situbondo dan Karanganyar. Sampai tahun 2018, Inovasi ini telah melahirkan 5 paten dimana sistem peringatan dini generasi ke-5 berupa alat-alat extensometer, tiltmeter, inclinometer, penakar hujan, ultrasonic sensor, IP Camera dan sistem telemetri  telah dibangun oleh UGM dengan berbagai varian dan memiliki 90% komponen lokal.

Sumber: Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB

Related posts