BNPB Kembangkan DIBI Terintegrasi Sebagai Data Dukung Penanggulangan Bencana

BOGOR – Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana terus mengembangkan aplikasi Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI). Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB mengembangkan aplikasi sehingga data lain, seperti data kependudukan, dapat melengkapi data DIBI yang ada. DIBI sebagai aplikasi komprehensif tidak hanya memasukkan data kependudukan, tetapi juga terintegrasi dengan aplikasi lain seperti InaWARE dan InaSAFE. BNPB menggunakan DIBI sebagai data awal yang dapat digunakan sebagai perencanaan penanggulangan bencana, antara lain pra, saat, dan pasca bencana. 

Saat ini aplikasi DIBI masih menggunakan program DisInventar yang dinilai memiliki banyak kelemahan. Beberapa kelemahan meliputi antara lain kendala pada modifikasi data cukup sulit, tampilan pada perangkat mobile, dan integrasi data pada aplikasi yang berbeda. Kepala Bidang Data BNPB Dr. Agus Wibowo mengatakan bahwa nantinya DIBI bisa menyajikan data kebencanaan, data kependudukan, dan data spasial. “Ke depan DIBI akan menampilkan juga Data Kajian Risiko Bencana seperti indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) dan Data Sumber Daya”, kata Agus Wibowo. 

Selain pengembangan DIBI pada tingkat pusat, Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB mengembangkan DIBI Provinsi. Melalui aplikasi DIBI provinsi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dapat memasukkan data bencana di masing-masing daerah. Data-data tadi tetap terpusat di server data BNPB. 

BNPB bekerja sama dengan United Nations Population Funds (UNFPA) dan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memasukkan komponen data kependudukan ke dalam DIBI.  Untuk mengembangkan DIBI ini, Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB menyelenggarakan focus group discussion (FGD) di Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (26/6). Perwakilan unit-unit kerja di BNPB dan BPS, serta UNFPA menghadiri diskusi yang berlangsung dua hari.  

Related posts