CERITA RAKYAT DARI PENGALAMAN MERAPI 3 TAHUN LALU

Masyarakat lereng Merapi mengenang tiga tahun berlalu pasca erupsi Merapi yang menelan ratusan korban manusia. Erupsi yang mengeluarkan materi vulkanik seperti awan panas atau 'wedhus gembel' dan lahar juga mengakibatkan kerusakan dan kerugian hingga mencapai angka triliun. Acara mengenang mereka yang menjadi korban dan penanggulangan bencana erupsi Merapi dipusatkan di hunian tetap (huntap) Pager Jurang, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta (4/11). 

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif menyampaikan pesan bahwa setiap bencana selalu ada kisah yang memprihatinkan. Namun demikian kita harus belajar dari pengalaman warga lereng Merapi. Pengalaman itu berharga untuk pembelajaran ke depan supaya dampak bencana dapat dihindari atau ditekan.


Merefleksikan peristiwa 3 tahun lalu, Syamsul Maarif mengajak para seniman untuk membuat cerita-cerita rakyat sebagai media edukasi. Cerita rakyat ini nantinya dapat diturunkan dari generasi ke generasi. Anak-anak dapat terus belajar dan memahami Merapi sehingga ini akan menjadi bagian hidup mereka.


Ajakan untuk menciptakan karya seni bertemakan kebencanaan sebagai media edukasi selalu dilakukan oleh Syamsul Maarif pada setiap wilayah terdampak bencana. Hal ini sebagai bagian langkah konkret untuk menghargai dan menempatkan local wisdom dalam penanggulangan bencana di Indonesia.


Pada akhir kesempatan sarasehan yang diikuti warga lereng Merapi, Syamsul mengingatkan kembali bahwa periodisasi Merapi 4-5 tahun. "Kira-kira tahun depan akan bekerja lagi (erupsi), mudah-mudahan dengan pengalaman yang ada kita semakin tangguh", ucap Beliau.(Ty)

Related posts