MENYERANG ADALAH PERTAHANAN YANG TERBAIK

Tweet

Komunikasi saat bencana yang selama ini terjadi menjadi polemik tersendiri dalam penyampaian informasi kepada masyarakat. Seperti jumlah korban bencana, kerusakan yang terjadi, taksiran kerugian dan sebagainya.
Indonesia sangat rawan bencana, memiliki 12 jenis bencana, antara lain banjir, longsor, gunungapi, gempabumi tsunami, dan lain-lain. Trend kejadian bencana dari tahun ke tahun semakin meningkat, khususnya bencana hidrometeorologi.
Mengutip dari Kapusdatin Humas BNPB, "menyerang adalah pertahanan yang terbaik". Maksudnya adalah dengan aktif memberikan informasi kebencanaan yang resmi kepada masyarakat dan insan pers melalui broadcast message via smartphone, email, berita di website dan sosial media" ucap Dr. Agus Wibowo,M.Sc selaku Kepala Bidang Data, yang mewakili Kapusdatin Humas BNPB pada acara Seminar Nasional Komunikasi Bencana di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Medan (21/3), dengan topik Potensi Bencana dan Strategi Penanganan Bencana di Indonesia.
"Perlu ada komunikasi bencana kepada masyarakat untuk menyelamatkan diri setelah gempa terjadi, karena BMKG baru bisa mendeteksi besaran gempa atau potensi terjadinya tsunami setelah 5 menit gempa terjadi" tambahnya.

Masih sedikit sekali komunikasi bencana yang dibahas di perguruan tinggi, dan potensi bencana di Sumatera Utara, khususnya Medan.
Rektor UMSU, Drs. Agussani,M.AP mengatakan "semoga dalam seminar ini melahirkan tokoh-tokoh pemikir dalam komunikasi bencana serta makin tingginya peranserta perguruan tinggi dalam penanganan bencana" ujarnya.

Kepala BPBD Provinsi Sumatera Utara, Drs. Asren, MA yang mewakili Gubernur Sumut dalam pidatonya mengatakan "Bahwa Sumatera Utara termasuk dalam 7 besar provinsi dan 17 Kabupaten/Kotanya juga rawan bencana. Perguruan tinggi terbuka lebar untuk melakukan penelitian bencana dan menjadi pusat studi bencana yang semata-mata menjunjung misi menyelamatkan korban jiwa" ungkapnya.

Penanggulangan bencana dari masing-masing elemen perlu saling bersinergi. Karena dalam undang-undang ada lima elemen dalam forum pengurangan risiko bencana,yakni Pemerintah, LSM, dunia usaha, media massa dan perguruan tinggi. "Seperti logo segitiga BNPB yang berarti sinergi antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha" ucap Asren.