KEMAMPUAN TANGGAP DARURAT 6 JAM SETELAH GEMPA PERLU DITINGKATKAN

Tweet

PADANG (23/04) - Kemampuan tanggap darurat baik pemerintah pusat maupun daerah di Indonesia selama enam jam pertama setelah terjadinya sebuah gempa besar masih perlu terus ditingkatkan. Pihak terkait perlu memikirkan hingga detail terkecil dari kesiapan fasilitas dan sumber daya manusia, serta menyusun rencana alternatif jika rencana utama mengalami kegagalan.
Poin tersebut mengemuka dalam latihan bersama berupa diskusi para pihak mengenai langkah tanggap darurat selama enam jam pertama seandainya terjadi gempa berkekuatan 8,9 Skala Richter di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Diskusi berlangsung pada hari kedua pelaksanaan International Table Top Exercise (TTX) Mentawai Megathrust 2013 di Padang, Selasa 23 April.
Takako Ito, Mission of Japan to ASEAN Minister Counsellor yang juga Deputy Chief of Mission, mengatakan dalam situasi bencana, seringkali persiapan dan perencanaan yang dilakukan saat situasi normal mengalami kegagalan. Dalam kondisi tersebut, sangat penting bahwa pemerintah memiliki rencana cadangan yang disusun sebelumnya untuk mengantisipasi situasi terburuk, di mana mayoritas sistem tidak bekerja.
“Berdasarkan pengalaman kami di Jepang, kita harus selalu mempunyai rencana alternatif dan mencari cara-cara inovatif untuk mengantisipasi jika sistem utama mengalami kegagalan. Kuncinya adalah memaksimalkan semua potensi yang ada dan membuat rencana untuk situasi terburuk,” katanya.
Saat terjadi bencana besar seperti gempa bumi dan tsunami, papar dia, hal pertama yang dilakukan Pemerintah Jepang adalah menyebarkan informasi mengenai kejadian tersebut melalui saluran televisi, radio, dan sumber lain yang ada. Hampir semua rumah tangga di Jepang memiliki radio yang sengaja dibeli untuk berjaga-jaga, sebagai sarana memperoleh informasi ketika ada bencana. Menurutnya, radio selama ini masih merupakan salah satu sarana komunikasi yang paling efektif untuk meneruskan atau menyebarkan informasi bencana. Di Jepang, masyarakat sangat memahami pentingnya komunikasi yang efektif untuk antisipasi bencana. Oleh karena itu, pelatihan-pelatihan di tingkat masyarakat dilakukan secara mandiri, rutin dan berkala. Mayoritas masyarakat di Jepang telah sadar bencana dan terlibat secara aktif, sehingga Pemerintah Jepang tidak bekerja sendiri dalam penanggulangan bencana.
“Kami terus mencari cara-cara inovatif yang efektif agar saat situasi sangat buruk, informasi peringatan dini gempa dan tsunami bisa tetap sampai ke masyarakat yang rentan. Dalam kasus Indonesia, cara yang barangkali bisa dicoba adalah memanfaatkan masjid yang sangat banyak yang kebanyakan memiliki alat pengeras suara, untuk menyampaikan informasi penting terkait bencana,” urainya.
International TTX Mentawai Megathrust merupakan pertemuan latihan dalam ruang untuk peningkatan kapasitas tanggap darurat. Latihan yang diikuti 251 peserta yang terdiri atas pejabat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), perwakilan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Republik Indonesia, lembaga donor internasional, akademisi, serta lembaga kemanusiaan internasional, nasional, dan lokal tersebut adalah rangkaian latihan yang puncaknya akan diisi gladi posko dan gladi lapangan di Mentawai pada Maret 2014.
Para pakar sebelumnya memprediksi masih terdapat potensi gempa berkekuatan 8,9 SR di sekitar Sumatra Barat, terutama Kepulauan Mentawai, yang jika benar-benar terjadi dapat memicu tsunami besar. Untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan BNPB mengambil langkah antisipasi yang salah satunya diwujudkan melalui pelaksanaan Mentawai Megathrust Disaster Exercise (DIREX).
Sejumlah peserta TTX mengatakan kondisi fasilitas komunikasi, seperti radio, terutama di Padang perlu mendapat perhatian khusus. Lokasi kantor Radio Republik Indonesia (RRI) yang berada di zona merah rawan gempa dan tsunami merupakan salah satu titik lemah yang sebaiknya dicarikan solusi. Di sisi lain, di Mentawai sendiri, minimnya fasilitas listrik dan jaringan komunikasi adalah aspek kelemahan yang sangat penting dicermati.
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Irina Rafliana yang menjadi fasilitator diskusi mengatakan tanggap darurat pada beberapa menit pertama setelah gempa sangat krusial. Informasi mengenai situasi di titik bencana merupakan salah satu kunci bagi pemerintah dan pihak terkait untuk mengambil keputusan dengan cepat dan setepat mungkin.
Beberapa peserta TTX menekankan pentingnya pemerintah daerah terus melakukan sosialisasi bagaimana masyarakat sebaiknya bertindak saat dan setelah bencana. Masyarakat perlu diberitahu mengenai hal-hal mendasar untuk keselamatan jiwa mereka, seperti membaca tanda-tanda kemungkinan tsunami, ke mana harus pergi mengamankan diri, dan bagaimana melindungi anggota keluarga. “Pengetahuan dasar seperti bahwa tsunami kemungkinan besar terjadi apabila gempa berlangsung lebih dari satu menit harus terus disosialisasikan agar masyarakat tahu dan bisa mengambil langkah penyelamatan yang diperlukan,” tukas seorang peserta.  
Latihan bersama TTX di Padang masih akan berlangsung hingga Kamis 25 April. Pada hari ketiga, peserta akan membahas situasi yang mungkin muncul dan langkah yang perlu diambil dalam 24 jam pertama dan 72 jam pertama setelah gempa. Selanjutnya, pada hari terakhir kegiatan, peserta akan membahas kemungkinan situasi dan langkah tanggap darurat selama periode yang lebih panjang, termasuk mekanisme pelibatan bantuan sumber daya internasional, baik sipil maupun militer.