PENGURANGAN RISIKO BENCANA INVESTASI UNTUK KETANGGUHAN BANGSA

Tweet

MATARAM -  Pengurangan Risiko Bencana (PRB), harus dijadikan sebuah upaya bersama, baik di tingkat nasional maupun tingkat lokal. Upaya mengurangi risiko, menjadi investasi yang sangat strategis,  mengingat dampak bencana cukup besar. “Kerugian akibat bencana di Indonesia pasca tsunami Aceh sampai tahun 2012, tercatat  95,96 triliun. Sementara anggaran pemerintah untuk penangulangan bencana hanya Rp 4 triliun.” kata Dr. Syamsul Maarif. Msi. Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam sambutannya pada pembukaan puncak peringatan bulan pengurangan risiko bencana, yang diselenggarakan di Mataram, NTB.


Lebih jauh Syamsul menjelaskan, bahwa kompleksitas dari strategi penanganan permasalahan bencana memerlukan suatu kerjasama dan dukungan semua pihak,  terutama dalam upaya mengembangkan budaya pengurangan risiko bencana, sehingga dapat dilaksanakan secara terarah dan terpadu. 


Badan PBB, United Nations Strategic for Disaster Risk Reduction (UNISDR) menetapkan bahwa tanggal 13 Oktober menjadi bulan pengurangan risiko bencana secara global. Di seluruh dunia bulan ini diperingati dengan berbagai aktivitas. Untuk tahun 2013 tema yang diusung oleh UNISDR adalah tentang Living with Disability and Disasters. Bulan  peringatan Pengurangan Bencana yang sudah dimulai sejak tahun 1989. Peringatan tersebut merupakan salah satu cara untuk mempromosikan budaya pengurangan risiko bencana, termasuk pencegahan bencana, mitigasi dan kesiapsiagaan. 


Di Indonesia pada dasarnya sudah banyak pelaku PRB yang ikut berpartisipasi dalam kampanye peringatan PRB, termasuk pelaku dari pemerhati isu gender, kelompok disable, kelompok anak-anak, dan lain sebagainya. Namun tantangannya adalah masih belum diwadahi dalam suatu rangkaian bersama sehingga masih terlaksana secara sektoral dan terpisah. 


“Peringatan bulan PRB ini dapat menjadi wadah bagi seluruh pemangku kepentingan untuk berbagi informasi saling berkoordinasi dan juga mengembangkan jejaring satu dengan yang lain. Untuk itulah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Platform Nasional, akan menyelenggarakan pertemuan Forum PRB sekaligus penyelenggaran puncak peringatan bulan PRB pada bulan Oktober 2013,” jelas Dr. Syamsul Maarif. Msi.


Penanganan bencana membutuhkan kerja sama dan dukungan semua pihak dalam penanganannya. Peringatan bulan PRB yang akan berlangsung dari 7 – 11 Oktober 2013 di Mataram, NTB, akan meyajikan berbagai kegiatan, diantaranya, peluncuran hasil riset dari 12 Universitas di Indonesia, seperti riset master plan tsunami yang dilakukan oleh Universitas Syahkuala, master plan gempa yang dilakukan oleh Institut teknologi Bandung (ITB) serta riset lainnya yang akan menjadi gambaran keseluruhan master plan kebencanaan di Indonesia 


Selain hasil riset, peluncuran buku-buku baru tentang kebencanaan, juga menjadi agenda dalam kegiatan ini. Pembelajaran dari penanganan bencana Gunung Api Rokatenda, secara khusus akan dibahas oleh Syamsul maarif, kemudian beberapa buku lain yang akan diluncurkan adalah National Assesment Report(NAR), Peran Mesjid dalam Situasi Bencana di Indonesia, yang diterbitkan oleh UNOCHA dan LPBI NU, Panggilan Kemanusia yang ditulis oleh Tim Kerja Dompet Dhuafa serta Merajut Kearifan Lokal dalam Penanggulangan Bencana di Sumatera yang diterbitkan oleh PKPU.


Sebagai puncaknya adalah kegiatan  pertemuan forum PRB, dimana dalam kegiatan ini seluruh elemen masyarakat berkumpul dan menentukan kembai strategi ke depan serta menggali potensi serta pengalaman dari lapangan. Forum ini diharapkan dapat menghasilkan catatan penting untuk membuat strategi Indonesia menuju Indonesia yang tangguh.