Teknologi Informasi dan Komunikasi Dalam Pengurangan Risiko Tsunami

Tweet

Jakarta, (24/11) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengadakan, “Workshop Pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi Pengurangan Risiko Tsunami” selama 3 hari.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Sekretaris Utama BNPB Ir. Dody Ruswandi, MSCE, Dalam sambutannnya, menuturkan “ancaman tsunami dapat terjadi sewaktu-waktu dan waktu untuk dievakuasi hanya hitungan menit. Perlunya koordinasi antar instansi dalam memantau perkembangan kejadian bencana sehingga diperoleh adanya indikator akan datangnya tsunami. Oleh karena itu perlunya penguasaan pengunaan alat teknologi informasi dan komunikasi sebagai Early Warning System Tsunami. Pelatihan penggunaan alat tersebut sering diadakan dan dipraktekan.
Dr. Sutopo Purwo Nugroho selaku Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas, dalam paparannya mengatakan, pengelolaan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi penanggulangan bencana perlu melihat mata rantai peringatan dini, dicek efektifitasnya karena dimungkinkan adanya kendala pada teknis komunikasi, seperti kecepatan pengiriman fax, listrik mati, respon dari Pemda terkait dan faktor lainnya. 
Sedangkan Drs. M. Taufik Gunawan selaku narasumber dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menambahkan, “perlu adanya tes, simulasi dari penggunaan sirene. Hal ini sebagai kesiapan untuk melihat kondisi peralatan yang berfungsi dengan baik. Sebagai contoh, beberapa sirene yang jarang dibunyikan, selama berbulan-bulan, dan ketika dibunyikan suara sirene agak pelan. Spesifikasi bunyi sirine bila uji coba adalah volume suaranya yang diperkecil dari suara semula, dan ada nada setelah bunyi sirine yang menentukan sebagai ujicoba. Untuk bahasanya disediakan dalam dua versi, yaitu Inggris dan Indonesia. Durasi bunyinya cuman 1 menit, jika sirine tanda tsunami berbunyi pas kejadian tsunami, volumenya lebih besar yang mencapai radius sekitar 6 km, yang menyebar ke kiri 3 km dan ke kanan 3 km.
Kegiatan ini juga mensosialisasikan Peraturan Kepala BNPB tentang Pusdalops, Sosialisasi Standarisasi Data, dan sosialisasi radio komunikasi. Peserta kegiatan ini  berjumlah sekitar 86 orang yang berasal dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) seluruh Indonesia.