Pemetaan Partisipatif Wilayah Kota Depok

Tweet

DEPOK - Rangkaian kegiatan pemetaan partisipatif yang dilakukan oleh Kedeputian Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, berlanjut ke Kota Depok, Jawa Barat. Kegiatan dilaksanakan beberapa waktu lalu, di lantai 5 ruang Edelweis, Geduang Balaikota Depok, Jawa Barat.

 

Kegiatan pemetaan partisipatif, diikuti oleh para lurah dan camat serta jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya yang ada di Kota Depok.

 

Latar belakang diadakannya kegiatan pemetaan partisipatif ini adalah kebutuhan akan informasi dari objek yang sebelumnya sudah dipetakan oleh Tim GIS Partisipatif beserta para mahasiswa yang sudah ikut membantu dalam proses pemetaan dengan menggunakan platform OpenStreetMap.

 

Melalui kegiatan pemetaan partisipatif ini diharapkan para pemangku kebijakan Kota Depok beserta staff lainnya mampu memberikan keterangan – keterangan terkait objek baik berupa nama, jenis, sejarah bencana maupun informasi pernting lainnya, sehingga ketika bencana terjadi analisis yang dilakukan dapat semakin tajam dan akurat.

 

Kegiatan pemetaan partisipatif ini merupakan langkah konkret penanggulangan bencana dalam fase pra bencana yang dinanungi oleh Direktorat Kesiapsiagaan.

 

Kegiatan Pemetaan Partisipatif Kota Depok diawali dengan sambutan oleh Ir. Herman Hidayah selaku Asisten Ekonomi dan Pembangunan. Lebih lanjut Herman memaparkan tentang potensi bencana yang sering terjadi di Kota Depok, antara lain; longsor, banjir/ genangan, maupun kebakaran (pemukiman).

 

Melihat potensi bencana tersebut sering terjadi di Kota Depok, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kota Depok sangat sangat mengharapkan antusiasme dari para lurah maupun pemangku kebijakan lainnya untuk dapat berkontribusi dalam kegiatan pemetaan partisipatif ini agar hasilnya, dapat digunakan dalam meningkatkan respon dan rencana yang baik ketika terjadi bencana.

 

Sementara itu, Kepala Seksi Pemantuan dan Peringatan BNPB, Tommy Harianto, S.Si dalam kata sambutanya menyatakan bahwa pemetaan partisipatif yang dilakukan di Kota Depok ini diharapkan dapat membantu perencanaan yang lebih baik dan lebih tertata.

 

Pemetaan partisipatif ini, lanjut Tommy Harianto, dapat menjadikan peta lingkungan lebih detail, tertata dan lebih informatif. Hal ini dikarenakan, objek pemetaan dilakukan hingga ke persil bangunan dan juga semua fasilitas dan infrastruktur yang ada.

 

Pemanfaatan dari pemetaan partisipatif ini digunakan untuk perhitungan perkiraan jumlah infrastruktur dan penduduk yang terdampak, penentuan jalur evakuasi dan penentuan titik kumpul ketika terjadi bencana. Hasil perkiraan dampak tersebut didapatkan dengan menggunakan software InaSAFE dimana hasilnya dapat untuk mendukung penyusunan rencana kontijensi.

 

Setelah itu adanya visualisasi tentang hasil dari analisis InaSAFE agar para pemangku kebijakan Kota Depok dapat mengerti dasar pentingnya pemetaan partisipatif yang tidak lain akan menjadi data dasar dalam proses analisis InaSAFE. Selanjutnya penjelasan mengenai tata cara dalam mengisi formulir dan peta lapangan yang sudah disediakan oleh Tim GIS Partsisipatif dimana masing – masing perwakilan kelurahan akan mendapatkan 2 (dua) jenis peta lapangan serta 1 (satu) formulir.

 

Pada tahap awal kelurahan yang ditetapkan sebagai prioritas pemetaan partisipatif Kota Depok berjumlah, 17 kelurahan yaitu Beji, Beji Timur, Depok Jaya, Kukusan, Kemirimuka, Depok, Pancoran Mas, Ratu Jaya, Kalimulya, Pondok Jaya, Pondok Cina, Bakti Jaya, Cinere, Limo, Cinangka, Tapos, Mekarjaya. Tujuh belas  kelurahan ini ditentukan berdasarkan data dari InaRISK yang menunjukkan bahwa kelurahan – kelurahan tersebut berada pada zona bahaya banjir yang tinggi.

 

Berdasarkan sosialisasi dengan para pemangku kebijakan Kota Depok, pemilihan kelurahan prioritas pemetaan partisipatif tersebut kurang disetujui karena dianggap sebagian besar kelurahan – kelurahan tersebut memiliki tingkat kerentanan bahaya yang cukup rendah.

 

Setelah dilakukannya, diskusi melalui musyawarah dan mufakat bersama, jumlah kelurahan – kelurahan yang menjadi prioritas pemetaan partisipatif menjadi 20 9dua puluh) kelurahan, yaitu :  Sukamaju, Abadijaya, Sukmajaya, Cisalak, Tugu, Pasir Gunung Selatan, Mekarsari, Sukamaju Baru, Jatijajar, Pancoran Mas, Ratujaya, Cipayung, Pondok Jaya, Bojong Pondok Terong, Pondok Cina, Kemirimuka, Pasir Putih, Sawangan Baru, Duren Mekar, dan Pondok Petir.

 

Kegiatan selanjutnya adalah melakukan pendampingan proses pemetaan bersama para lurah ataupun perwakilannya. Para lurah diminta mendeliniasi batas RW di peta lapangan yang sudah kita sediakan sebelumnya.

 


Disamping itu Para lurah juga diminta memberikan informasi terhadap objek – objek yang sudah dipetakan sebelumnya, baik itu berupa fasilitas pendidikan, kesehatan, komersil, maupun infrastruktur lainnya. Untuk kelurahan – kelurahan yang tidak termasuk ke dalam kelurahan yang masuk dalam prioritas bukan berarti tidak akan dipetakan, tetapi pada saat kegiatan ini berlangsung para lurah tersebut diharap mengerjakannya di tempat masing – masing dan nantinya diwajibkan membawa kembali ke Balai Kota Depok pada waktu yang sudah ditentukan. Hanya saja untuk kelurahan yang prioritas, Tim GIS Partisipatif melakukan proses labellingnya langsung menggunakan platform OpenStreetMap. (nt/ws)