Penggunaan Puna Alap-Alap BPPT Untuk Pemantuan Karhutla

Tweet

JAKARTA – Kedeputian Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa (TIRBR), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), berhasil mengembangkan pesawat udara tanpa awak (PUNA) jenis Alap-Alap yang dilengkapi dengan rumah kamera (gimbal), baik kamera video daylight maupun dengan infra merah.

 

Kemampuan jenis pesawat tanpa awak ini mampu melakukan pemantuan titik api (hotspot) pada daerah dengan radius 80 km dari lokasi takeoff landing.

 

Demikian salah stau point pemaparan tim Kedeputian Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa (TIRBR) – BPPT) saat berkunjung ke BNPB dan diterima oleh Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, Senin (07/08).

 

Menurut Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsigaan BNPB, Ir. B Wisnu Widjaja, tidak ada salahnya BNPB untuk mencoba menjajagi kerjasama dengan melibatkan berbagai pihak lain dalam penggunaan jenis pesawat tanpa awak ini. Hal ini lanjutnya, kecuali keakurasian datanya terjamin juga lebih efisien. Disamping itu juga sebagai upaya untuk memaksimalkan dalam operasi penangggulangan kebakar hutan dan lahan yang beberapa hari ini semakin meluas serta untuk jangka panjang.

 

Sementara itu, menurut Kepala Program Pesawat Tanpa Awak (Drone) BPPT, Joko Purwono, jenis pesawat tanpa awak Alap-Alap,  PA4 dan PA5 yang bisa digunakan untuk pemetaan udara. Gimbal (rumah kamera) yang dibawah PUNA Alap-Alap P4 dan P5 dapat melakukan menitoring visual dari udara secara daring. Disamping itu pesawat ini mampu terbang nonstop selama tujuh jam.

 

Lebih lanjut Joko menguraikan, bahwa kamera video dapat melakukan zooming, penguncian sasaran untuk dijadikan sebagai bukti foto jika diperlukan. Pesawat PUNA Alap-Alap PA4 digunakan untuk pemataan.

 

Kemampuan pemetaan pesawatan PUNA Alap-Alap ini lebih dari 2.600 ha per jam terbang, sedangkan dalam sehari mampu memantau area sekitar 13.00 ha dengan resolusi 1280 x 720 HD atau sekitar 13 cm/pixel. Keunggulan PUNA Alap-Alap PA4 ini juga dapat melakukan pemetaan pada lokasi sejauh 50 – 80 kam dari dari lokasi takeoff landing.

 

PUNA Alap-Alap PA4 sangat efisien dalam membantu pengawasan kawasan hutan, termasuk memantau titik-titik hotspot/titik panas api. Disamping itu dari sisi perawatan, PUNA Alap-Alap dalam pengoperasian, perawatan, mode penyelesaian masalah 100% dikuasai para perekayasa BPPT 

 


Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa (TIRBR) – BPPT, Dr. Ir. Wahyu Widodo Pandoe, M.Sc, mengatakan bahwa pesawat tanpa awak ini hasil karya anak bangsa yang dimotori oleh BPPT. Sehingga perlu dimanfaatkan oleh institusi pemerintah, untuk kedaulatan tanah air, termasuk dalam penanggulangan kebakaran hutan. (ws)