Kesinambungan Aksi di Hulu, Tengah Hingga Hilir

Tweet

YOGYAKARTA - Kerjasama yang baik antara berbagai stake holder perlu diacungi jempol dalam pembukaan penyelenggaraan sekolah sungai angkatan ke IV dan sekolah gunung angkatan I di Candi Plaosan, Prambanan, Klaten pada hari Minggu, 6 Agustus 2017 lalu. Rangkaian kegiatan ini berlangsung selama satu minggu yakni pada tanggal 6 hingga 12 Agustus 2017. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang didukung oleh berbagai Kementerian, seperti Kemenko PMK, Kemen PU Pera, KLHK, dan pemerintah provinsi Jawa Tengah, pemerintah Kabupaten Klaten serta perguruan tinggi, yakni Universitas Gajah Mada dan UPN Veteran Yogyakarta serta komunitas-komunitas dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Terselenggaranya Sekolah Sungai dan Gunung, diharapkan dapat mewujudkan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara berkesinambungan yang melibatkan multi sektor dengan aksi di hulu, tengah hingga hilir atau ecosystem based.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyatakan keterlibatan seluruh pihak diperlukan dalam pelaksanaan Sekolah Sungai dan Gunung yang termasuk peran dari perguruan tinggi melalui program kuliah kerja nyata/KKN tematik didesa-desa yang bersinergi dengan program ini. “Setiap daerah harus belajar dari daerah lain yang telah berhasil menerapkan kebijakan berbasis PRB” katanya yang mendukung kegiatan ini.

Menurut Deputi bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, B. Wisnu Widjaja, Sekolah Sungai dan Sekolah Gunung merupakan upaya massif yang melibatkan semua pihak sebagai bentuk implementasi Gerakan Pengurangan Risiko Bencana. “Gerakan ini akan berinvestasi pada Sumber Daya Manusia melalui peningkatan kesadaran dan mobilisasi massa untuk meningkatkan Manajemen Risiko Bencana yang mengacu pada Kerangka Sendai dalam Pengurangan Risiko Bencana (Sendai Framework for Disaster Risk Reduction-SFDRR 2015-2030) dan tujuan SDG’s (Sustainibility Development Goals)” ucapnya.

Direktur Pengurangan Risiko Bencana, Lilik Kurniawan, menyampaikan bahwa Sekolah Sungai dan Sekolah Gunung pada tahun 2017 akan dilaksanakan secara serempak di 35 Kabupaten/Kota akhir tahun 2017. “Kegiatan ini akan memberikan edukasi sebanyak 35.000 masyarakat dalam hal pengelolaan ekosistem di wilayah DAS untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi yang kecenderunggannya semakin sering terjadi” ucapnya optimis.

Strategi yang ditempuh BNPB dengan memberdayakan tokoh-tokoh penggiat lingkungan di masyarakat sebagai fasilitator lapangan. Fasilitator tersebut sebelumnya akan diberi pembekalan dari pengalaman-pengalaman baik yang sudah dilakukan oleh berbagai komunitas yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya, seperti komunitas Kali Code, Winongo, Banyu Bening – Rejo Dadi Sleman, Balerante, Sidorejo, Nglanggeran, dan Jurang Jero. Pembelajaran yang akan dilakukan merupakan materi pembelajaran dan paktik baik yang berkaitan dengan pengelolaan sungai dan gunung yang telah dilaksanakan oleh komunitas-komunitas di Yogyakarta selama ini.

Sampai tahun 2017 BNPB telah menyelenggarakan pembekalan sekolah sungai sebanyak 4 kali yaitu pembekalan fasilitator sekolah Sungai angkatan I dan II pada tahun 2016 untuk para fasilitator daerah dari 23 Kabupaten/Kota serta angkatan III pada bulan Juli 2017 yang lalu serta yang saat ini sedang dilaksanakan. Total saat ini BNPB telah memiliki lebih dari 150 fasilitator daerah untuk Sekolah Sungai, Gunung dan Laut.

Pada kesempatan yang sama, dari rangkaian pembukaan Sekolah Sungai dan Sekolah Gunung ini, Gubernur Jawa Tengah bersama perwakilan BNPB dan Kementerian/Lembaga yang hadir serta perwakilan tokoh masyarakat juga menyampaikan Deklarasi tentang Gerakan Masyarakat Cinta Sungai, Laut dan Gunung untuk Indonesia Sejahtera. Diharapkan dengan kepedulian masyarakat bersama pemerintah dan dunia usaha terhadap kelestarian lingkungan dapat mewujudkan bangsa yang tangguh dari bencana.

Direktorat Pengurangan Risiko Bencana BNPB