Wartawan Sulawesi Utara Bentuk WAPENA SULUT

Tweet

MANADO – Wartawan Sulawesi Utara siap liput bencana setelah menerima pembekalan materi dalam acara Forum Komunikasi Wartawan BNPB di Mercure Manado (11-13/9). Sejumlah 50 wartawan dari berbagai media massa dan berbagai organisasi di Sulawesi Utara terlihat antusias dalam mengikuti materi yang diberikan BNPB dan siap mengaplikasikan ilmu dan pengetahuannya dalam peliputan bencana untuk memberikan informasi dan menyelamatkan manusia dari bencana. Wartawan yang tergabung dalam PWI, AJI, IWO, IJTI dan lainnya bersama-sama belajar teori dan praktek penanggulangan bencana.

Peningkatan kapasitas wartawan dalam pengetahuan bencana memerlukan peranan media dalam menyampaikan penanganan bencana kepada masyarakat luas. “Media adalah pengganda BNPB dan BPBD dalam penanggulangan bencana. Media mampu mempengaruhi keputusan politik, mengubah perilaku dan menyelamatkan masyarakat. Apa yang publik pikirkan seringkali tergantung pada apa yang publik terima dari media. Secanggih apapun seseorang atau pemerintah dalam menangani bencana, tanpa bantuan publikasi media massa sama saja nihil. Karena tidak ada masyarakat yang tahu apa yang telah dilakukannya dalam penanganan bencana yang terjadi” ucap Sutopo Purwo Nugroho selaku Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB. 

Jurnalis Ahmad Arif, dalam materi jurnalisme bencana menyampaikan praktek pemberitaan media masih fokus pada kejadian terjadinya bencana, masih sedikit yang memberitakan mitigasi dan pasca bencananya. “Seperti halnya rumah tahan gempa, kegiatan pengurangan risiko bencana dan sebagainya. Masih sedikit media yang memberitakan mitigasi bencana atau pasca gempa bumi, kebanyakan wartawan fokus pada saat masa terjadinya bencana” ungkapnya. Wartawan juga memiliki peran dalam menyelamatkan lingkungannya dengan pemberitaannya. “Kita sebagai wartawan juga dapat mendorong kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana di sekitar mereka” ajaknya. 

Banyak masyarakat yang belum mengenal alamnya, seperti gempabumi, tsunami dan sebagainya. Sehingga banyak korban jiwa dari penduduk yang terpapar. Media memiliki peran penting dalam setiap tingkatan bencana, seperti halnya media Mainstream di Indonesia yang masih cenderung memberitakan bencana sebagai peristiwa besar. 

Idealnya media dapat memberitakan bencana pada  berbagai tingkatan, misalnya pada masa prabencana media dapat mengingatkan warga terhadap ancaman bencana di sekelilingnya sehingga dapat mendorong kesiapsiagaan. Pada masa bencana, media fokus pada korban selamat, kelompok terentan, dan membangkitkan semangat korban. Sedangkan masa pascabencana, media mampu mengawal proses rekonstruksi dan rehabilitasi agar tidak menjadi bencana baru.

Menyamakan Persepsi 

BNPB setiap tahunnya mengadakan Forum Komunikasi Wartawan BNPB di berbagai daerah. Tahun 2012 di Lido Sukabumi-Jawa Barat, 2013 di Palembang-Sumatera Selatan dan Semarang-Jawa Tengah, 2014 di Surabaya-Jawa Timur, 2015 di Solo-Jawa Tengah dan Samarinda-Kalimantan Timur, 2016 di Bali dan Pontianak-Kalimantan Barat. Tingginya permintaan dari daerah untuk melakukan peningkatan kapasitas wartawan dalam penanggulangan bencana. Tahun 2017, BNPB menambah menjadi 3 kali kegiatan Forkom Wartawan, antara lain di Bandung-Jawa Barat, Medan-Sumatera Utara dan Manado-Sulawesi Utara.

Setelah pelatihan wartawan segera membentuk Wartawan Peduli Bencana (Wapena) sebagai wadah  komunikasi dalam penanggulangan bencana. Wapena ini menjadi mitra BNPB dan BPBD. Ada hubungan simbiosis mutualisme keduanya.

Kegiatan ini juga dalam rangka langkah pemerintah melindungi warga negaranya, khsususnya wartawan saat peliputan bencana, karena tidak tahu ancamannya sehingga banyak korban dari wartawan, seperti kasus Sinabung, banjir Jakarta, tsunami Aceh dan sebagainya. Sehingga perlu menyamakan persepsi antara wartawan dan pemerintah agar selamat saat meliput bencana dan memberitakan yang benar kepada masyarakat melalu forum komunikasi wartawan ini. 

Kapusdatinmas BNPB yang juga penanggung jawab kegiatan mengatakan, kegiatan ini memberikan pengetahuan dan pengalaman bencana kepada wartawan, memberikan keterampilan dasar kepada wartawan dalam bentuk teori dan praktek, serta membangun media relation antara Wartawan BNPB dan BPBD. “Grup Whatssapp Wartawan Peduli Bencana (WAPENA) Sulawesi Utara sudah dibuat, untuk memudahkan komunikasi dalam menyampaikan informasi bencana. Karena media juga sebagai pengganda penyampaian informasi dari BNPB kepada masyarakat, dengan berita 5W+1H nya” ucap Sutopo.

Drs. Bintang Susmanto,AK,MBA selaku Inspektur Utama BNPB pada saat pembukaan mengatakan potensi bencana sangat besar di sekeliling kita dan wartawan merupakan mitra yang paling strategis untuk BNPB. “Media massa memiliki jaringan yang luas dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Sehingga independensi dan edukasi dalam pemberitaan harus dijaga baik oleh rekan-rekan wartawan”ucapnya.

Noldy selaku Kalaksa Provinsi Sulawesi Utara, atas nama Gubernur Sulawesi Utara mengucapkan terima kasih kepada BNPB atas terselenggaranya kegiatan forum komunikasi wartawan. “Apa yang sudah terjalin, kita tingkatkan kedepannya menjadi lebih baik dan bersinergi lebih baik” ucapnya. 

Perwakilan wartawan Voucke Lontaan dari Media Indonesia mengatakan kegiatan ini sangat penting dan baru pertama kali tentang penanggulangan bencana diselenggarakan di Sulawesi Utara. “Kami sebagai Jurnalis juga memiliki kebijakan redaksi tersendiri dalam pemberitaan bencana, namun menjadi lebih baik dengan adanya forkom wartawan mampu menyamakan persepsi dalam pemahaman bencana baik secara teori dan praktek” ucapnya. 

Kegiatan yang diadakan selama 3 hari yaitu 11-13 September 2017 ini, meliputi materi teori dan praktek lapangan. Teori yang diberikan antara lain manajemen bencana di Indonesia, penanganan bencana di Indonesia, update rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana di Sulawesi Utara, potensi bencana dan kerusakan lingkungan hidup di Sulawesi Utara dan jurnalisme bencana. Sedangkan untuk materi praktek lapangan yang diberikan antara lain adalah pendirian tenda, pendirian dapur umum, water treatment, mobil komunikasi, penggunaan GPS, pertolongan pertama, trauma healing, perahu karet dan evakuasi air.

Umumnya setelah menerima pelatihan para wartawan memiliki pemahaman yang lebih komprehensif dalam memberitakan suatu bencana. Jika sebelumnya pertanyaan yang diajukan ke masyarakat, "Apakah masyarakat sudah menerima bantuan dari pemerintah?" Berubah menjadi, "Apa antisipasi yang dilakukan sebelumnya menghadapi bencana?". Begitu pula pengurangan risiko bencana menjadi pemberitaan yang penting. Bukan saja saat bencana.

Pengurus WAPENA SULUT

Ketua : Amanda Komailing (Metro TV)

Wakil Ketua : Simon Siagian (pojoksulut.com)

Sekretaris: Asrar Yusuf (beritakawanua.com)

Bendahara : Feybe Lumanaw (Berita Satu)

Humas : Arther Lowpatty (Inews TV)


Sutopo Purwo NugrohoK

KepalaPusat Data Informasi dan Humas BNPB