INDONESIA BANGUN PUSAT PENGETAHUAN PRB KELAS DUNIA

Jakarta, 23 Oktober 2013
Indonesia terletak di wilayah yang sangat rawan bencana. Di balik kesuburan, kekayaan dan keanekaragaman hayati dan keindahan daerah-daerah di Indonesia ternyata menyimpan bencana karena letaknya di pertemuan tiga lempeng/kulit bumi aktif yaitu lempeng Indo-Australia di bagian selatan, Lempeng Euro-Asia di bagian utara dan Lempeng Pasifik di bagian Timur. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana dalam kurun waktu 30 tahun terakhir (1982-2012) ada sebanyak 10.817 kejadian. Dominasi kejadian ada pada bencana banjir sebanyak 4.121 kejadian (38%), tanah longsor sebanyak 1.983 kejadian (18%), angin puting beliung sebanyak 1.903 kejadian (18%), kekeringan sebanyak 1.414 kejadian (13%) dan bancana lainnya 1,397 kejadian (13%). Maka dari itu tidak heran bila kemudian ada yang menyebut Indonesia sebagai “supermaket bencana”.
Akan tetapi penyebutan “supermaket bencana” bermakna negatif dan pasif serta hanya menjadi obyek yang tidak berdaya. Sebagai sebuah bangsa yang sedang menata diri untuk dapat menjadi bangsa tangguh bencana penyebutan itu lalu diubah menjadi Indonesia sebagai “laboratorium bencana” yang mengarah kepada suatu pusat keunggulan dalam upaya penanggulangan bencana. Dalam hal ini Indonesia memposisikan diri sebagai laboratorium penanggulangan bencana dunia. Sebagai laboratorium bagi dunia, Indonesia adalah tempat belajar, berbagi dan berinovasi bagi penanggulangan bencana, khususnya di bidang pengurangan risiko bencana.
Sebagai salah satu langkah menuju pusat keunggulan penanggulangan bencana adalah dengan dibangunnya Pusat Pengetahuan Pengurangan Risiko Bencana Indonesia (Indonesia Disaster Risk Reduction Knowledge Center – INA DRR KC). Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB, Lilik Kurniawan mengatakan, “Tujuan Pusat Pengetahuan Pengurangan Risiko Bencana Indonesia adalah menjadikan Indonesia sebagai pusat pengetahuan pengurangan risiko bencana tingkat dunia. Lingkup kerjanya antara lain melakukan pengumpulan pengetahuan (sejarah bencana, kearifan lokal, penelitian terdahulu), menggali pengetahuan (melakukan riset/penelitian/pengkajian), dan membuat prediksi untuk peringatan dini.”
Hal ini dipaparkan Lilik Kurniawan dalam acara “Fasilitasi Penyusunan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2015-2019 pada 23 Oktober 2013 di Hotel Cemara, Gondangdia, Jakarta Pusat. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 25 orang 12 perguruan tinggi yang sedang bekerja sama dengan BNPB untuk menyusun 12 rencana utama (masterplan) bencana, antara lain tsunami oleh Universitas Syahkuala, gelombang ekstrim oleh Univesitas Andalas, kebakaran hutan dan lahan oleh Universitas Institut Pertanian Bogor, kecelakaan industri oleh Institut Teknologi Surabaya, banjir oleh Universitas Diponegoro, tanah longsor oleh Universitas Gadjah Mada, gunungapi oleh UPN Veteran Yogyakarta, gempabumi oleh Institut Teknologi Bandung, kekeringan oleh Universitas Udayana, epidemi oleh Universitas Airlangga, banjir bandang oleh Universitas Hasanuddin, dan cuaca ekstrim oleh Universitas Indonesia.
“Pembentukan Pusat Pengetahuan PRB Indonesia ini akan dikerjakan selama sepuluh tahun (2013-2023).  Target pertama adalah Pusat Pengetahuan PRB Indonesia dan target kedua adalah Pusat Pengetahuan PRB Dunia (World DRR Knowledge Center). Pengerjaan rencana dilakukan sejak tahun 2013 ini, “ujarnya.
Indikator keberhasilan dari Pusat Pengetahuan PRB Indonesia ini antara lain:
1.    Orang atau kelompok orang: perguruan tinggi (cluster pakar kebencanaan), peneliti, perekayasa, praktisi penanggulangan bencana.
2.    Ilmu pengetahuan dan teknologi.
3.    Manajemen informasi penanggulangan bencana.
4.    Tempat/Lokasi: buatan dan alam. Sebagai tempat/lokasi buatan adalah kantor Pusat Pengetahuan PRB Indonesia adalah di Sentul, Bogor, yang sekaligus merupakan kantor pusat Indonesia Disaster Relief Training Ground (INA DRTG), museum, kantor BNPB, laboratorium, perpustakaan, warisan budaya, dan lain-lain. Sedangkan sebagai tempat/lokasi alam berupa alam dan lingkungan di wilayah Indonesia ini yang sangat kaya.
5.    Pusat pelatihan penanggulangan bencana.
Lilik Kurniawan menambahkan, “Dasar pembentukan Pusat Pengetahuan PRB Indonesia ini adalah Indonesia sebagai laboratorium bencana, amanat Deklarasi Yogyakarta mengenai penguatan kapasitas lokal riset, dan memperkuat INA DRTG. Dan rencana ini sudah kami sampaikan kepada DPR RI kemarin, serta berkoordinasi dengan Kepala Pusdiklat BNPB yang menyediakan tempatnya dan kami yang menyediakan isinya.”
Deklarasi Yogyakarta adalah hasil utama dari Konferensi Tingkat Menteri se-Asia untuk Pengurangan Risiko Bencana Ke-5 atau Fifth Asian Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction – AMCDRR Ke-5 pada 22 – 25 Oktober 2012 di Yogyakarta dan dengan dihadiri oleh 2600 peserta dari 72 negara, yang termasuk di dalamnya dua kepala negara dan 25 menteri.
Sementara itu Indonesia Disaster Relief Training Ground (INA DRTG) akan berfungsi sebagai:
1.    Markas dan Sekretariat Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRCPB).
2.    Pusat Pemantau Ancaman dan Kajian Risiko Bencana, dan Informasi Bencana.
3.    Cadangan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) serta
4.    Pusat Pelatihan dan Simulasi Pusdalops.
5.    Akademi Pelatihan Penanggulangan Bencana yang bertaraf internasional.
Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana (Pusdiklat PB) BNPB, Ir. B. Wisnu Widjaja, M.Sc., dalam sebuah kesempatan yang membahas INA DRTG menyampaikan, “Pembangunan ini atas perintah langsung dari Presiden RI guna meningkatkan kapasitas dan ketrampilan dalam hal atasi bencana. Indonesia berada di daerah rawan bencana dan oleh karena itu seharusnya menjadi laboratorium bencana pada tingkat dunia.”
Lebih lanjut Wisnu menyampaikan, “Tujuan INA DRTG ini adalah sebagai prototype Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) serta Pusat Pelatihan dan Simulasi Pusdalops; Markas dan Sekretariat Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRC-PB); Akademi Pelatihan Penanggulangan Bencana yang menyediakan pelatihan berstandar internasional bagi para pengelola bencana baik di tingkat nasional maupun regional, dari praktisi operasional sampai pengambil keputusan; dan Pusat Pemantau Ancaman dan Kajian Risiko Bencana, dan Informasi Bencana.”
INA DRTG ini dibangun di atas lahan seluas 4 Ha dengan bekas bangunan pabrik seluas 2,25 Ha di daerah Sentul, Bogor, 45 km dari Jakarta atau sekitar 40 menit dari Jakarta Pusat. Proses perencanaan dan disain bangunan Ina-DiReCt ini telah dilakukan pada tahun 2011, sedangkan pembangunan dilaksanakan tahun 2012 dan diharapkan selesai tahun 2013 ini. --- dp ---

Related posts