Kepala BNPB: Cegah Karhutla dengan Peningkatan Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat

PALANGKARAYA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengupayakan langkah-langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pendekatan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Hal itu disampaikan Doni dalam rapat koordinasi karhutla bersama TNI, Polri, BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, Satgas Cegah Karhutla, Balai PPI dan Tim PDB, yang dilanjutkan dengan pantauan udara langsung menggunakan helikopter BNPB di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Minggu (4/8).

Upaya tersebut dilakukan berdasarkan temuan-temuan lapangan yang mana menunjukkan bahwa 99% karhutla disebabkan oleh faktor kesengajaan manusia demi mendapatkan keuntungan dalam skala besar. Sedangkan 1% penyebab kebakaran adalah faktor alam seperti sambaran petir, logam, pecahan kaca, gesekan ranting oleh angin, yang mana hal itu hampir mustahil terjadi.

Selain itu, berdasarkan pantauan langsung dari udara menggunakan helikopter BNPB, Doni juga menemukan bahwa titik api terlihat lurus seperti saf, artinya bahwa kebakaran hutan ini memang disengaja karena polanya sangat terstruktur.

"Titik api di Kalimantan Tengah ini bersaf atau lurus. Ada indikasi dibakar dan si pembakar sudah mengerti tata letak dan arah angin. Kita harus bisa mengetahui siapa pelaku ini. Sudah berpuluh-puluh tahun terjadi seperti ini," ungkap Doni.

Sedangkan faktor-faktor lain seperti munculnya angin puting beliung di beberapa titik di Kalimantan Tengah dan fenomena El Nino bukan merupakan sesuatu yang membuat kebakaran ini muncul, melainkan hal lain yang memicu semakin meluasnya kebakaran. Karhutla seperti yang terjadi di Kalimantan Tengah ini murni disebabkan adanya api yang disulut oleh pihak tertentu yang dibayar untuk suatu kepentingan.

"Kita harus bisa temukan pelakunya. Setelah itu dekati pelan-pelan lalu ajak bergabung ke dalam pihak kita menjadi satgas pencegahan api. Kita beri kesejahteraan mereka seperti yang telah BNPB lakukan kepada 1.215 satgas dengan Rp 145.000 per kepala", kata Doni.

Selain itu, Kepala BNPB juga menawarkan cara lain dalam kaitan pendekatan kesejahteraan masyarakat dengan manfaatkan lahan ekonomis. Dalam hal ini Doni mencontohkan seperti budidaya berbagai tanaman lain yang lebih menghasilkan namun tidak dengan membakar lahannya seperti sagu, lidah buaya, pinang, bawang merah, nanas, cabai, kopi liberica dan sebagainya.

Kebakaran hutan dan lahan sudah menjadi bencana dengan kerugian terbesar dibanding peristiwa tsunami Aceh pada 2004 silam dengan perbandingan 8:16 untuk karhutla. Pada 2015, tercatat lahan seluas 2,6 juta hektar atau 5x Pulau Bali terbakar dengan total kerugian mencapai 221 triliyun.

Selain kerugian, karhutla juga membuat Indonesia banyak menanggung malu dengan negara-negara tetangga yang terdampak seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darrusalam. Oleh karena itu negara butuh peran serta langsung dari berbagai pihak melalui pentahelix, yang mana di dalamnya melibatkan unsur akademisi, pemerintah, masyarakat/komunitas, dunia usaha, media massa untuk mencegah agar karhutla tidak semakin meluas dan bisa dituntaskan. Sehingga ke depannya Kalimantan Tengah tidak mengekspor asap tapi mengekspor oksigen.

"Contohlah warga yang membudidayakan sagu seperti di wilayah Sungai Tohor, Meranti, Riau. Tidak hanya bahan pangan, tapi juga oksigennya bisa bermanfaat, bisa kita ekespor. Saya berharap Kalimantan Tengah juga bisa meniru hal yang sama agar kita yang disini juga menjadi lumbung pangan terbaik juga sebagai paru-paru dunia," tutup Doni.

Usai memberi arahan dan peninjauan karhutla di Palangkaraya, Kepala BNPB beserta rombongan melanjutkan kunjungan kerja ke Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah dan dilanjutkan menuju Pontianak, Kalimantan Barat dengan agenda yang sama, koordinasi pencegahan dan penanganan karhutla.

 

Agus Wibowo

Plh. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Related posts