Kepala BNPB Memperoleh Gelar Pangeran Merto Negoro

TENGGARONG - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Syamsul Maarif mendapat anugerah gelar Pangeran Merto Negoro dari Kesultanan Kutai Kertanegara Ing Martadipura. “Prosesi pemberian gelar diawali dengan mendirikan Ayu, mendirikan Ayu merupakan sebuah simbolisasi dari upaya untuk mencapai atau mendirikan kerahayuan, yakni keselamatan, ketentraman dan dimulainya Erau Adat Kutai, “ujar Menteri Sekretaris keraton Kesultanan Kutai, HAP Gondo Prawiro. Ayu merupakan sebuah tiang yang berbentuk tombak dari kayu ulin yang juga biasa disebut dengan nama sangkoh Piatu, yang pada batangnya diikatkan tali Juwita dan tali Cinde. Tali Juwita yang terdiri dari 3 utas menyimbolkan berbagai lapisan masyarakat, sedangkan tali Cinde yang menyimbolkan keluarga Sultan Kutai.

Prosesi pemberian gelar itu dipimpin langsung Sultan Kutai Kertanegara ing Martadipura XX H. Adji Mohamad Salehoeddin II di ruang utama Museum Mulawarman Kutai Kartanegara. "Hai dengarkan oleh sekalian yang ada hadir di penghadapan majilis ini, bahwa ini surat serta cap yang terjeli di atas ini, poniko pangan diko hingkang kanjeng sinuhun Sultan Haji Adji Mohamad Salehoeddin II anjenangkan Syamsul Maarif bin Imam Basuki sebagai Pangeran Merto Negoro. Sapa-sapa tan ngarani, denda kerama tahel yaitu Adat Kesultanan Kutei," kata Sultan melalui SK yang ditandatangan. Mengenakan baju adat hitam dengan hiasan motif warna emas, Syamsul Maarif menjalani prosesi pemberian gelar didampingi Gubernur Kalimantan Timur Awang Farouk dan Bupati Kutai Timur Rita Widiasari. Sultan Salehoeddin II menyematkan topi kesultanan menandai pemberian gelar kehormatan di kompleks Keraton Kesultanan Kutei Kertanegara.

Kesultanan menilai, rakyat Kutei Kertanegara sudah sepantasnya memberi gelar kehormatan tersebut, karena Syamsul sangat berjasa membantu percepatan penanganan runtuhnya jembatan Kutai pada tahun 2011. Purnawirawan jenderal TNI berpangkat terakhir Mayor Jenderal itu menerima gelar terhormat berbarengan dengan perayaan Pesta Adat Tenggarong yang setiap tahun diperingati masyarakat Kutai Kertanegara.

Sebelumnya Syamsul menerima penghargaan Nusa Reksa Pratama di tahun 2010, atas jasa dan peran sertanya dalam penanggulangan bencana gunung Gunung Merapi, Penghargaan tersebut diberikan secara langsung oleh Rektor Universitas Gajah Mada (UGM), Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D., dalam Malam Anugerah Insan Berprestasi dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-61 UGM di Balai Senat. Tahun 2011 Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden Republik Indonesia juga memberikan penghargaan Bintang Mahaputera Utama. Syamsul Maarif beserta istri juga menerima gelar adat Sangsako yang diberikan Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Padang Pariaman dan Kota Pariaman, Tahun 2012. Gelar yang diterima Syamsul Maarif, Yang Dipertuan Raja Maulana Pagar Alam, dan Nanik Kadaryani diberi gelar Puti Reno Anggun Suri sebagai penghargaan atas peran serta jasanya pada penanganan paska gempa bumi Sumatera Barat tahun 2009.

Syamsul Maarif yang berlatar belakang militer, pangkat terakhir di dunia militernya adalah Mayor Jenderal dengan jabatan akhir sebagai Aster Kasum TNI. Selain pendidikan milter yang diperoleh saat ikut Akmil Magelang dan lulus tahun 1973, pria kelahiran Kediri Jawa Timur tanggal 26 September 1950 juga mempelajari ilmu hukum dan sosiologi, pendidikan hukum diambil di Universitas Brawijaya dan pendidikan terakhirnya adalah Doktor Sosiologi Militer yang diambil di Universitas Indonesia (UI) Jakarta.(RSP).

Related posts