KISAH KORBAN GEMPA ACEH “KAMI TERGUNCANG SEPERTI TELUR DIKOCOK.”

ACEH, 08/07: Kejadian gempa yang melanda Aceh pada Selasa, 2 Juli 2013, mungkin tidak akan pernah terlupakan oleh Rahma (42), warga yang berprofesi sebagai guru olahraga di SD Negeri 14 Ketol, Aceh Tengah. Ia dan keluarga berhasil menyelamatkan diri keluar rumah saat gempa berkekuatan 6,2 skala Richter yang terasa selama 15 detikmembuat plafon dan perabotan di rumah mereka berjatuhan.

“Tidak diduga saat saya sedang mencuci piring, sekitar pukul tiga (BMKG mencatat gempa terjadi pukul 14.37 WIB), terjadi gempa. Kami lalu langsung berlari keluar.Namun, saya tertimpa plafon yang jatuh. Beruntung ada anak saya yang membantu sehingga saya bisa keluar,” tuturRahmasambil mencoba mencerna kembali peristiwa tersebut, “Alhamdulilah, kami selamat.”

Ibu dua anak ini mengatakan gempa yang dialami kali ini merupakan yang terhebat selama hidupnya. Ia mengaku bersyukur, ketika gempa datang, sekolah sedang libur. SD Negeri 14 Ketol memiliki sekitar 80 siswa dan 11 tenaga pendidik, termasuk kepala sekolah, penjaga sekolah, dan tiga guru berstatus honorer. Ia dan keluarga tinggal di kompleks sekolah yang terletak di Jalan Simpang Balik, Belang Mancung, Kampung Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Rahma menjadi wali kelas tiga di sekolah ini.

Rahma bercerita, suasana di kompleks sekolah pada Selasa siang itu masih ramai oleh anak-anak yang bermain perang-perangan. Seingatnya, begitu keluar rumah, ia melihat sekitar 10 anak berada di lapangan. “Kami terguncang seperti telur yang dikocok,” katanya sambil tersenyum pahit. Wulan, anak penjaga sekolah yang tinggal di rumah sebelah terkena reruntuhan batu bata. Kepalanya berdarah. Demikian pula, istri dan anak seorang mantri tetangga terpaksa dilarikan ke rumah sakit terdekat karena terluka.

Rahma mengatakan situasi sesaat setelah kejadian diwarnai kepanikan warga. Sempat beredar layanan pesan singkat dari orang yang tidak bertanggung jawab yang menyebut gempa akan disusul meletusnya Gunung Bur Ni Telong pada pukul 01.00 subuh. Warga pun kebingungan dan sebagian memilih mengungsi ke arah Bireuen.

Saat ditemui pada Minggu 7 Juli malam, Rahma dan sejumlah warga masih tinggal di dalam tenda darurat di kompleks sekolah. Rumah Rahma rusak cukup parah sehingga belum layak dihuni.

Gempa 6,2 SR di Aceh tercatat berpusat di daratan, sekitar 35 km barat daya Kabupaten Bener Meriah atau 50 km barat laut Aceh Tengah. Gempa ini termasuk gempa berkategori kuat, yang dapat menyebabkan bangunan mengalami kerusakan ringan hingga berat.

Di Aceh Tengah, sebanyak 232 dari 352 desa terkena dampak langsung gempa. Hingga Minggu, 31 orang dilaporkan meninggal dunia dan empat hilang. Sementara itu di Bener Meriah, terdapat delapan desa dari total 233 yang terdampak langsung. Sejauh ini sembilan orang dinyatakan meninggal dunia, sedangkan 23 mengalami luka berat dan masih dirawat di Rumah Sakit Palang Merah Indonesia Lhokseumawe dan di RS Umum Banda Aceh.

 

PRB di Sekolah

Rahma mengemukakan selama ini pihak sekolah telah mengajarkan kepada para siswa cara penyelamatan diri dari gempa bumi. Simulasi dilakukan. Siswa, kata dia, dididik untuk mengingat langkah-langkah penting, seperti berlindung di bawah meja atau berdiri di sudut ruangan manakala bumi berguncang. “Anak-anak diminta lari ke tempat yang aman dan jangan panik.”

Dia meyakini para siswa cukup memahami instruksi-instruksi tersebut. Apalagi, siswa sekolah ini termasuk cerdas-cerdas. “Sekolah kami juara pertama lomba cerdas cermat sekabupaten Aceh Tengah,” terang Rahma dengan bangga.

Meski demikian, setelah peristiwa gempa kali ini, Rahma berpendapat kegiatan simulasi dan upaya pengurangan risiko bencana (PRB) lainnya perlu terus dilakukan. Dia berharap kejadian bencana serupa tidak akan menimbulkan dampak besar lagi sebagaimana yang masih terjadi di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. “Jika sudah gempa sesungguhnya, masyarakat panik dan masih banyak korban.” (ACU).

Related posts