KORBAN GEMPA ACEH INGIN SEGERA BANGKIT

ACEH, 09/07: Kurang lebih sepekan setelah gempa 6,2 skala Richter mengguncang Aceh, sejumlah warga yang ditemui staf BNPB di lokasi pengungsian mengaku masih trauma dan bingung memikirkan masa depan. Meski demikian, tampak bahwa masyarakat yang menjadi korban tidak mau terlalu lama larut dalam kesedihan. Mereka ingin segera bangkit dan menata kembali kehidupan dan rumah tangga.
Salim (45) dan Zubaini (45), pasangan suami istri yang tinggal di Desa Serempah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, mengatakan rumah mereka roboh akibat gempa yang terjadi Selasa, 2 Juli 2013, sekitar pukul 14.37 WIB. Tidak hanya itu, kebun kopi dan sawah yang menjadi sumber mata pencaharian keluarga ikut amblas. Sebanyak 72 rumah dan lahan di sekitarnya di desa ini tercatat mengalami kerusakan berat.
“Kami sehari-hari menanam kopi dan bersawah. Sekarang kami bingung, tidak punya pekerjaan karena kebun dan sawah hancur. Kami hanya berharap bisa secepatnya punya tempat baru dan bekerja kembali,” kata Salim, kemarin. Dia mengatakan sudah enggan untuk menetap di Serempah karena trauma. Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah telah berencana memindahkan penduduk ke Desa Kuta Alam yang masih berada di wilayah Kecamatan Ketol.
Salim dan Zubaini selamat saat gempa sebab tengah berada di luar rumah. Ketika kejadian, Zubaini sedang mencuci pakaian cucu mereka di pekarangan rumah. Pasangan ini memiliki lima anak dan tiga cucu.
Bahaya memang seringkali datang tak diduga. Selain harus senantiasa siap sedia, keselamatan dari bencana juga kerap merupakan hasil rangkaian peristiwa yang dipercaya sebagai bentuk campur tangan Ilahi, sebagaimana diyakini oleh Salim dan Zubaini.
“Dua cucu kami sempat terseret lumpur dari tanah longsor. Satu masih satu tahun, satu malah umurnya baru dua hari. Kami panik mencari-cari. Alhamdulilah, kuasa Ilahi masih beserta kami. Denis (1) dan adiknya segera ditemukan dan selamat,” cerita Zubaini yang ketika diwawancara mengenakan kerudung berwarna cokelat. “Kasihan mereka. Masih kecil sudah kena musibah.”
Sebanyak 11 warga tetangga Salim dan Zubaini meninggal dunia dalam bencana tersebut. Beberapa warga masih dinyatakan hilang, termasuk Sabri (30), sanak keluarga Salim. Selama di pengungsian, korban bergantung kepada bantuan makanan dan lainnya yang disediakan baik oleh pemerintah maupun pihak lain.
Sementara itu, keinginan serupa untuk segera bangkit dari keterpurukan akibat gempa juga disampaikan Amisbah (25). Pemuda berambut ikal ini adalah warga Desa Berenung, Kecamatan Ketol. Saat kejadian, Amisbah tengah tidur siang di rumahnya. Dia tertimpa reruntuhan batu bata dan balok kayu. “Kedua kaki saya lecet berdarah, pinggang juga luka,” paparnya.
Meskipun rumah seluas 80 meter persegi ambruk rata dengan tanah dan keluarga Amisbah praktis tidak dapat menyelamatkan banyak harta benda, dia mengatakan sangat bersyukur sebab istri dan anaknya berhasil selamat. Istri Amisbah dan anak mereka yang masih kecil sedang bermain di luar rumah ketika bencana terjadi. Setelah memastikan anggota keluarganya aman, Amisbah ikut membantu mengevakuasi warga lain yang menjadi korban. Justru dalam kondisi sulit, rasa solidaritas dan kepedulian terhadap sesama muncul secara nyata. (ACU)

Related posts