Kunjungan Pegawai Pemerintah Korea ke BNPB

JAKARTA- Sebanyak 29 pegawai Pemerintah Korea yang didampingi oleh Korea International Cooperation Agency (KOICA) berkunjung ke BNPB pada (6/8) 2015. Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Ir. Bernardus Wisnu Widjaja,M.Sc. Tujuan dari kunjungan tersebut, ingin mempelajari penanganan bencana di Indonesia, khususnya penanganan banjir di Indonesia. Dalam paparannya, Wisnu mengatakan Indonesia yang beriklim tropis dengan dua musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau sangat rawan terjadinya bencana yang terkait hidroklimatologis seperti angin puting beliung, banjir, kekeringan dan kebakaran hutan. Dampak perubahan iklim di kawasan Asia Tenggara, termasuk di Indonesia diperkirakan akan meningkatkan ancaman terhadap ketahanan pangan, kesehatan, ketersediaan air, keragaman hayati, dan kenaikan muka air laut. Cuaca ekstrim seperti curah hujan yang tinggi memang menjadi faktor pemicu terjadinya banjir. Perubahan iklim memicu lebih banyak cuaca ekstrem yang menghasilkan bencana, seperti yang terjadi di daerah khusus Ibukota DKI Jakarta.

Menurut Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI) kejadian banjir di Indonesia yang dicatat mulai tahun 1815 – 2014 sebanyak 5,541 kejadian, atau sebanyak 37% dari seluruh kejadian jenis bencana. Sedangkan sebaran jumlah kejadian bencana banjir terbanyak berada di pulau Jawa. Berdasarkan data jumlah penduduk hasil sensus penduduk Tahun 2010, penduduk pulau Jawa mendominasi dengan jumlah mencapai 58% dari 237,6 juta jiwa. Sementara itu, Ms. Kim Sowi, selaku Deputy Resident Representative, KOICA Indonesia Office, menanyakan, bagaimana dengan teknologi penanggulangan bencana di Indonesia, apakah ada risetnya khususnya dalam penanganan bencana.

Wisnu mengatakan riset bencana dilakukan BNPB dengan Perguruan tinggi seperti UGM, ITB, ITS, Badan Geologi, Kemenristek dan Lembaga penelitian yang diharapkan berkontribusi aktif dalam pengurangan risiko bencana dengan menghasilkan produk teknologi yang unggul dalam bidang kebencanaan. Beberapa teknologi yang digunakan BNPB diantaranya alat peringatan dini longsor, pesawat tanpa awak dan alat deteksi tsunami. Peralatan teknologi kebencanaan, seperti deteksi keretakan tanah digunakan untuk mengenali beberapa daerah rawan bencana longsor secara reguler seperti di wilayah Jawa Barat bagian selatan, sekitar 50 persen termasuk rawan longsor. Di daerah lain sudah ada petanya. Adapun teknologi pesawat tanpa awak bisa digunakan untuk memotret dan menganalisis apa yang dilakukan terhadap wilayah tersebut”.(adi)


Related posts