MONITOR REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI KABUPATEN MAGELANG

Kepala BNPB, Dr. Syamsul Maarif, M.Si., melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah (4/4). Kunjungan ini bertujuan untuk memonitor pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab rekon) dalam pemulihan perekonomian dan pembangunan pasca erupsi Merapi tahun 2010 di wilayah tersebut.


Lebih dari 20.000 unit rumah terdampak pasca erupsi. "Wilayah kami meliputi 58 desa di 7 kecamatan dengan 94.993 jiwa serta 27.717 rumah yang terdampak banjir lahar dingin" ucap Bupati Magelang Ir. H. Singgih Sanyoto.


Pelaksanaan rehab rekon ini sebagai bentuk konkret tindak lanjut nota kesepahaman mengenai dana hibah bantuan sebesar Rp 96,3 milyar. Dana tersebut dimanfaatkan untuk penanganan 6 sektor yang terbagi dalam sub sektor antara lain (1) Sektor permukiman sub sektor perumahan, (2) sektor infrastruktur sub sektor transportasi, (3) sektor ekonomi produktif sub sektor pertanian dan kehutanan, (4) sektor ekonomi produktif sub sektor peternakan,(5) sektor sosial sub sektor kesehatan,dan (6) lintas sektor.


“Kami laporkan penyerapan anggaran saat ini mencapai Rp 78,3 milyar dan sisa Rp 17,8 milyar yang disebabkan adanya sisa tender, dan masih terdapat 214 kepala keluarga yang belum dapat direlokasi akibat kesulitan mendapatkan lahan untuk keperluan pembangunan hunian tetap," ucap Bupati Magelang.


"Saya, atas nama rakyat dan pemerintah mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pusat,khususnya BNPB", tambahnya. 


Kilas balik dalam erupsi Merapi, BNPB membantu dalam upaya penyelamatan perkebunan salak di Desa Jeruk Agung, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. BNPB memobilisasi sumber daya termasuk masyarakat untuk menyelamatkan tunas salak seluas 2.500 hektar. Perekonomian lokal masyarakat setempat saat itu sangat terancam. “Sekarang salaknya sudah dapat diekspor,“ ungkap Singgih.


Sementara itu, Kepala BNPB mengatakan bahwa beliau teringat peristiwa erupsi Merapi yang menelan 368 orang korban jiwa. “Serta bentuk perjuangan tersendiri saya memimpin 2 provinsi dalam menangani bencana Merapi," ucap Syamsul Maarif. "Bencana Merapi ini suatu bencana yang permanen, jadi jika ada berita informasi dari pusat untuk evakuasi, sekiranya penduduk mematuhi himbauan pemerintah khususnya dari BNPB untuk segera evakuasi ke tempat yang lebih aman", pesannya.


Monitoring pertama ke kelompok ekonomi produktif, antara lain ternak domba dengan bantuan sejumlah 1.080 ekor, dengan sasaran 40 kelompok yang memperoleh 27 ekor perkelompok.

Penanaman salak untuk 91 kelompok tani seluas 117,79 hektar dan penanaman kelapa untuk 22 kelompok seluas 132 hektar di Kecamatan Salam, Srumbung dan Dukun yang disebut masyarakat Pande Makmur. Tak ketinggalan masyarakat Pande Karya menjadikan panganan olahan dari salak dan kelapa, seperti wingko salak, lemet, manisan, gula kelapa dan sebagainya.


Monitoring kedua, meninjau alur sungai kali putih. Di antaranya membangun Jembatan Kali Putih dengan dimensi 2 x 60 m x 7 m yang dilakukan sebagai upaya antisipasi terjadinya banjir lahar dingin dari Kali Putih yang melintasi jalan utama Yogyakarta - Magelang. Serta menggali alur sungai kali putih, untuk memfungsikan kembali aliran lahar dingin dan dibangunnya pengaman sungai.


Monitoring ketiga, mengunjungi hunian tetap (huntap), di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan. Huntap Judah berkapasitas 118 KK, yang warganya berasal dari Desa Sirahan,Desa Jumoyo dan Desa Adikarto. Monitoring terakhir adalah TEA, singkatan dari Tempat Evakuasi Akhir atau bisa juga disebut Jambor. Di Kabupaten Magelang terdapat 18 TEA, untuk TEA Tanjung memiliki luas 2.000 m, daya tampung 750-1.250 orang dengan fasilitas dapur umum, Puskesmas, rumah tenaga medis, MCK, bilik asmara, dan ruang serba guna.

Related posts