Paleotsunami

JAKARTA - Hingga sebelum 26 Desember 2004, mayoritas warga Aceh tidak menyadari kalau kota mereka dibangun di atas endapan tsunami tua yang disebut paleotsunami. Bahkan, ketika laut surut tak lama setelah gempa, banyak orang justru ke pantai. Tidak ada yang tahu bahwa fenomena surutnya air laut itu adalah salah satu pertanda bakal datangnya tsunami. Maka, ketika air laut setinggi lebih dari 20 meter tiba-tiba merangsek ke daratan, kesempatan menyelamatkan diri jadi terbatas. Sekitar 200.000 penduduk meninggal pagi itu. Banyaknya korban terutama disebabkan ketidaktahuan. Sepanjang ingatan orang Aceh kala itu, tsunami tak pernah terjadi. Setahun pascabencana, baru ditemukan manuskrip tentang gempa bumi di Aceh, di antaranya ”Takbir Gempa”. Dalam satu bagiannya disebutkan tentang kemungkinan datangnya ombak keras ke daratan setelah gempa. Sayang, naskah ini lebih banyak dipahami sebagai primbon, bukan dokumentasi kejadian.

Fenomena serupa terjadi saat tsunami menghantam Pangandaran, Jawa Barat, Juli 2006. Survei peneliti tsunami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko, tak lama seusai kejadian, menemukan, sebagian besar masyarakat di Pangandaran tak paham kerentanan tsunami daerahnya. Seperti masyarakat Aceh sebelum 2004 atau Pangandaran sebelum 2006, demikian pula penduduk Pulau Bali selatan saat ini. Masyarakat yang ditemui tim peneliti gabungan Indonesia-Amerika Serikat (AS), rata-rata tidak percaya tsunami besar pernah melanda wilayah mereka (Kompas, 22/7). Catatan sejarah tentang bencana geologi di Nusantara cenderung terbatas mengingat tradisi tertulis di negeri ini juga relatif baru. Padahal, periode keberulangan gempa besar dan tsunami bisa ratusan atau bahkan ribuan tahun. Sekalipun kisah bencana alam banyak ditemui dalam cerita rakyat, kebanyakan berupa metafora. Salah satunya adalah Ratu Kidul yang dipercaya masyarakat pantai selatan Jawa.

Kepala Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto percaya bahwa mitologi Ratu Kidul termasuk geomitologi, mitos yang memiliki dasar peristiwa geologi masa lalu. Kajian paleotsunami yang ia lakukan menemukan jejak tsunami tua di sepanjang pantai selatan Jawa. Deposit paleotsunami itu ditemukan di Lebak (Banten), Pangandaran (Jawa Barat), Cilacap (Jawa Tengah), Pacitan (Jawa Timur), dan belakangan di Kulon Progro (Yogyakarta). Sebagian telah diketahui memiliki kesamaan umur sekitar 300 tahun lalu. Beberapa lapisan lagi memiliki lapisan lebih tua, menunjukkan keberulangan kejadian tsunami di masa lalu. Sementara itu, kajian paleotsunami oleh geolog AS, Ron Harris dan timnya, menemukan dua lapisan tsunami tua di Bali selatan. Secara teoretis, kejadian tsunami di selatan Jawa bisa berbarengan dengan di selatan Bali. Saat ini sampel deposit tsunami tersebut tengah diteliti untuk diketahui umurnya.

Di Aceh, tim Earth Observatory of Singapore bersama Universitas Syiah Kuala menemukan 11 lapisan tsunami tua di pantai barat provinsi ini dalam kurun 7.400 hingga 2.900 tahun lalu. Di tambah tiga temuan deposit dalam kurun 1.000 tahun, Aceh setidaknya telah dihantam 14 tsunami besar, termasuk 2004. Kajian-kajian paleotsunami yang kian intensif belakangan ini telah menyingkap bukti-bukti tak terbantahkan tentang kerentanan zona pesisir kita. Kota-kota besar di Indonesia banyak yang dibangun di atas deposit tsunami tua. Namun, persepsi risiko bukan hanya soal pengetahuan. Satu dekade setelah tragedi, kawasan pesisir Aceh yang dilanda tsunami 2004 kembali dipenuhi permukiman baru. Ini juga terjadi di daerah lain pascatsunami, seperti di Pangandaran, Flores (Nusa Tenggara Timur), hingga Banyuwangi (Jatim). Kebutuhan hidup sehari-hari membuat sebagian masyarakat menegosiasikan risiko tsunami. Apalagi, di negeri yang memiliki 127 gunung api—terbanyak di dunia dan berada di zona tumbukan tiga lempeng tektonik besar dunia, mencari tempat yang benar-benar aman dari bencana geologi tidak mudah.

Dalam hal ini, kita perlu belajar dari cara masyarakat Pulau Simeulue beradaptasi. Masyarakat Simeulue yang lebih dekat dengan pusat gempa 2004 bisa menyelamatkan diri. Tak lama setelah gempa, mereka mengungsi ke tempat tinggi. Ini karena mereka punya pengetahuan tentang smong—bahasa setempat untuk tsunami—yang diwariskan turun temurun. Meski ribuan rumah hancur, ”hanya” tujuh warga Simeulue meninggal. Data-data paleotsunami yang semakin banyak ditemukan adalah pembuka kesadaran. Namun, selebihnya tergantung kita. Apakah akan menjadi dasar mitigasi atau mengabaikannya. (sumber: Kompas; Ahmad Arif). 

Related posts