PERAMBAH HUTAN MASUKI DAN RUSAK CAGAR BIOSFER

Di depan Gubernur Riau Annas Maamun, para perambah yang saat ini sudah ditangani pihak kepolisian berdialog dengan Gubernur dan wartawan di Media Center Posko Satgas Operasi Terpadu Penanggulangan Bencana Asap pada Kamis (20/3). Langkah ini dimaksudkan untuk membuka permasalahan terkait kebakaran lahan dan hutan (karlahut) secara terbuka kepada masyarakat. Perambahan hutan ini juga diindikasikan sebagai salah satu pemicu terjadinya karlahut di Riau. Mereka menebang hutan dan membakar bekas hutan untuk dijadikan lahan perkebunan.

 

Penuturan para perambah bahwa mereka mendapatkan Surat Keterangan Ganti Rugi (SKGR) dari kepala desa setempat. Mereka yang bukan masyarakat setempat mengaku tidak mengetahui lahan yang dirambah merupakan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu. Mereka mengatakan hanya mengerjakan lahan sekitar 16 ha dan baru tanam sawit di lahan seluas 5 ha. Pengakuan mereka bahwa mereka membuka hutan karena hanya ingin bertani. Pihak Kepolisian Riau terus mengembangkan kasus ini dibantu dengan pihak Kejaksaan Riau, Kemenhut, dan KLH.

 

Berdasarkan Tim Khusus Satgas Darat, pihaknya mendapati 39 kamp yang digunakan para perambah dengan gelondongan potongan kayu yang beratnya ratusan ton. Tim ini terus bergerak untuk mendapatkan lebih banyak perambah karena temuan ratusan ton potongan kayu yang siap dikirim melalui kano-kano kecil.  

 

Sementara itu, perkembangan hingga kini pihak Kepolisian Riau telah menerima 46 laporan dengan penambahan tersangka 75 orang, termasuk 1 korporasi. Penyelesaian proses lidik 3 kasus, sidik 20, pelimpahan berkas ke jaksa 21, sedangkan P21 terdapat ada 2 kasus. Pihak Kemhut dan KLH turut membantu Kepolisian setempat dengan mendatangkan 21 PPNS LH dan tim ahli kehutanan sebagai saksi ahli. Cagar Biosfer yang zona inti seluas 178.722 hektar ini merupakan salah satu warisan dunia.


Sutopo Purwo Nugroho

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Related posts