Potensi Gempa dan Tsunami: Anak-anak SDN Kembang Belajar Bencana

PACITAN – Anak-anak Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kembang belajar bencana, khususnya gempabumi dan tsunami dari para fasilitator sekolah/madarasah aman pada Sabtu (22/10) di SDN Kembang, Pacitan, Jawa Timur.

Kegiatan edukasi bencana ini dilakukan karena lokasi sekolah yang berada di kawasan rawan bencana gempabumi dan tsunami. SDN Kembang berjarak kurang 500 m dari pantai Pancer. Lokasi sekolah sangat berisiko karena akses tempat tinggi terdekat terhalang sungai. Edukasi terhadap anak-anak dan guru sekolah sangat mendesak diberikan kepada mereka.

Diana, salah seorang fasilitator menjelaskan, "Dengan kegiatan ini, diharapkanan anak-anak dan guru menjadi sadar akan bencana. Paling tidak, mereka mengetahui tanda-tanda atau langkah apa yang harus dilakukan pada saat bencana."

Dalam kegiatan tersebut, fasilitator mengajak anak-anak untuk melihat film pendek tentang gempabumi dan tsunami. Setelah itu, fasilitator melakukan tanya jawab sambil memberikan kuis. Sebanyak 127 siswa kelas 1 sampai dengan 6 yang terbagi ke dalam dua kelas mengikuti kegiatan tersebut dengan bersemangat.

Sementara itu, satu kelas dikhususkan bagi guru-guru untuk mendapat edukasi bencana. Diana mengungkapkan, "Melalui edukasi bencana, guru mendapat tambahan pengetahuan tentang gempabumi dan tsunami. Mereka juga diharapkan dapat membimbing anak didik ketika terjadi bencana.”

Pacitan termasuk wilayah dalam 136 kabupaten/kota dengan indeks risiko tinggi. Catatan sejarah gempabumi besar Pacitan pada 1859 dengan kekuatan 7,5 SR. Gempa saat itu menyebabkan tsunami kecil. Kemudian pada 1937 gempa berkekuatan 7,2 SR terjadi dengan intensitas VII - IX MMI. Terkait dengan potensi bencana di Pacitan, beberapa waktu lalu UPN Veteran Yogyakarta, Geoteknolo LIPI serta Universitas Birgham Young, Amerika Serikat melakukan penelitian tentang endapan tsunami purba dan peramalan tsunami. Dari hasil penelitian tersebut, jargon 20-20-20 dicetuskan bersama tim peneliti dan BPBD Pacitan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan menggalakkan jargon 20-20-20. Jargon tersebut mengandung makna 20 detik, 20 menit, 20 meter. Jargon mengindikasikan bila gempa terjadi lebih dari 20 detik, masyarakat memiliki waktu 20 menit untuk evakuasi ke tempat yang lebih tinggi lebih dari 20 meter. BPBD Pacitan dan mitra mengajak masyarakat untuk waspada dan mengingat jargon tersebut.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyelenggarakan kegiatan edukasi bencana bagi lingkungan sekolah, baik sekolah dasar hingga sekolah menengah atas secara rutin setiap tahun. BNPB memandang bahwa edukasi bencana sangat penting untuk mengenalkan pengetahuan dan bagaimana menyikapi bencana sejak usia dini. Kegiatan ini sudah dilaksanakan di beberapa sekolah dasar, seperti di wilayah Bogor, Pandeglang, Boyolali. Sekolah yang menjadi target kegiatan edukasi bencana berdasarkan rekomendasi dari BPBD setempat. Rekomendasi tersebut berdasarkan pada faktor kerentanan dan risiko serta belum pernah ada sosialisi pengetahuan bencana di sekolah.

Selain di sekolah, pada malam hari (22/10), BNPB bekerjasama dengan BPBD Pacitan menyelenggarakan pertunjukkan wayang kulit dengan tema 'Kenali Bahaya, Kurangi Risiko'. Pertunjukkan bagi masyarakat Pacitan diselenggarakan di Alun-alun setempat. BNPB melihat bahwa selain di sekolah, pendidikan kebencanaan bagi masyarakat juga sangat penting untuk dilakukan. Pertunjukan ini bertujuan untuk menghibur dan memberikan edukasi bencana. Kegiatan serupa juga pernah dilakukan di beberapa tempat, seperti Boyolali, Pandeglang, dan Bali. Dari semua lokasi, masyarakat menyambut antusias pertunjukan ini dan merasakan manfaat yang besar untuk meningkatkan pengetahuan mereka mengenai isu-isu kebencanaan dan pengurangan risiko bencana.

Berdasarkan sambutan dari masyarakat dan pentingnya kegiatan ini, BNPB berupaya sejauh mungkin untuk terus menyelenggarakannya di berbagai lokasi lain yang rawan bencana. Selain itu, BNPB juga mendorong BPBD, dunia usaha, dan masyarakat untuk menyelenggarakan kegiatan serupa demi meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas

Related posts