POTENSI KERJASAMA PENANGGULANGAN BENCANA DI KAWASAN NEGARA-NEGARA MSG (MELANESIAN SPEARHEAD GROUP) KE BNPB 12 JANUARI 2014

MSG (Melanesian Spearhead Group) adalah organisasi negara-negara sub-kawasan dan etnis Melanesia yang beranggotakan Fiji, Front de Liberation Nationale Kanak et Socialiste (FLNKS) Kaledonia Baru, Papua Nugini, Solomon Islands, dan Vanuatu. Sub-kawasan Melanesia memiliki nilai penting di kawasan Pasifik Selatan karena di luar Australia dan Selandia Baru, 90% dari jumlah penduduk dan 95% dari GDP Pasifik Selatan berada di sub-kawasan ini.
Terbentuknya MSG diawali dengan kesepakatan pembentukan sebagai political gathering di antara negara-negara etnis Melanesia yang dituangkan dalam “Agreed Principles of Cooperation Among Independent States of Melanesia” yang ditandatangani di Port Vila pada 14 Maret 1988. Pada tahun 2007, MSG disepakati sebagai organisasi sub-regional yang dituangkan dalam “Agreement Establishing the Melanesian Spearhead Group”.  Sebagai sebuah organisasi, MSG mempunyai tujuan untuk meningkatkan hubungan perdagangan, pertukaran budaya, dan kerja sama teknik guna mencapai pertumbuhan ekonomi, pembangunan berkelanjutan, good governance, dan keamanan.
Sub-kawasan Melanesia adalah tetangga langsung Indonesia, berbatasan dengan Indonesia bagian timur yang memiliki karakteristik sama dengan kawasan pasifik. Oleh karena itu Indonesia berkepentingan untuk menjalin hubungan kerjasama yang semakin kuat dengan negara-negara anggota MSG. Melalui Indonesia, negara-negara MSG akan mendapat akses yang lebih mudah untuk meningkatkan hubungan dengan pasar Asia.
Pada KTT MSG ke-18 di Fiji, Indonesia diterima sebagai observer.  Diharapkan dengan menjadi observer dalam MSG tersebut, Indonesia akan dapat bekerjasama lebih erat dan memberikan kontribusinya kepada negara-negara anggota MSG baik dalam bentuk program capacity building maupun bantuan teknis lainnya.
Tema kunjungan Menlu MSG ke Indonesia adalah “Promoting Economic Ties and Development Cooperation”. Para Menlu MSG akan bertemu dengan berbagai pihak di Indonesia,   termasuk mengadakan pembicaraan dengan Menlu RI.
Melalui kunjungan ini, Indonesia dan MSG akan meningkatkan hubungan dan kerjasama yang lebih luas.  Kedua pihak akan mengupayakan konsultasi yang lebih erat untuk membahas isu-isu yang menjadi perhatian bersama guna meningkatkan hubungan dan kerja sama tersebut.
Delegasi MSG dipimpin oleh Menteri Luar Negeri dan Imigrasi Papua Nugini, Rimbink Pato, didampingi anggota MSG lain yaitu Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Eksternal Solomon Islands Soalaoi Clay Forau, wakil dari Front de Libération Nationale Kanak et Socialiste (FLNKS) Kaledonia Baru Yvon Faua, dan MSG High Representative Duta Besar Kaliopate Tavola, melakukan kunjungan ke BNPB pada tanggal 12 Januari 2014, dari serangkaian perjalanan di Indonesia, tanggal 11 s/d 16 Januari 2014. Sebelum bertolak ke Papua dan Ambon, para Menlu MSG melakukan serangkaian kegiatan antara lain pertemuan dengan Menlu RI, kunjungan ke SMESCO, BNPB dan AHA Centre.Sedangkan perwakilan dari Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang menghadiri pertemuan tersebut adalah Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika didampingi oleh Direktur Kerjasama Intra Kawasan Asia Pasifik dan Afrika.
Kunjungan ke BNPB adalah untuk menjajaki potensi kerjasama di bidang penanggulangan bencana.  Dalam diskusinya, delegasi lebih menyoroti penanganan adaptasi perubahan iklim (API) dalam kerangka kerja pengurangan risiko bencana (PRB). Kemudian, disampaikan pula, banyak kesamaan dari segi tantangan geografis yang dimiliki oleh Indonesia dan negara MSG dengan gugusan pulau-pulau, sehingga pertemuan ini merupakan kesempatan yang baik untuk berkoordinasi menghadapi isue ini. Selama ini, penanganan perubahan iklim di negara MSG dan Pasifik telah melakukan kerjasama dengan Amerika. Ditambahkan pula, Menlu Solomon menyatakan dukungannya terhadap adanya kerjasama antar negara-negara terdampak akibat perubahan iklim. Di Kepulauan Solomon, telah mempunyai kebijakan pemerintah terkait API (atau CCA - Climate Change Adaptation) yang didukung oleh beberapa  tenaga ahli mengenai CCA. Mereka juga telah menyiapkan lokasi/tempat,  yang telah siap dengan adanya isue CCA, sehingga penanganan ini lebih melibatkan komunitas global.
Dalam kesempatan tersebut Kepala BNPB, Bapak Syamsul Maarif, yang didampingi oleh pejabat Eselon I dan pejabat lainnya menyampaikan, bahwa pada bulan Maret 2014 Indonesia akan menyelenggarakan latihan/exercise MMDiREx (Mentawai Megathrust Disaster Relief Exercise)di Mentawai, Sumatera Barat (dengan mengikutsertakan 18 (delapan belas) negara. Kepala BNPB mengharapkan kiranya negara-negara yang tergabung dalam MSG dapat berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Lebih luas lagi, Kepala BNPB menjelaskan potensi kerja sama yang dapat dikembangkan antara Pemerintah RI dengan Pemerintah Kawasan Pasifik adalah:
a.    Pertukaran data dan informasi kebencanaan,
b.    Dialog antar expert  terkait perubahan iklim, lingkungan hidup dan kebencanaan, dan
c.    Penyusunan MoU terkait issue-issue kebencanaan antara Kepala BNPB Indonesia dengan  pimpinan kementerian yang menangani kebencanaan di MSG.
Delegasi menyatakan keinginannya untuk melaksanakan penandatanganan MoU terkait penanganan perubahan iklim.  Entitas Indonesia dalam melakukan kegiatan pra-bencana secara efektif sejalan dengan adanya desa tangguh dan masyarakat tangguh bencana, yang merupakan potensi Indonesia. Kepala BNPB menambahkan, bahwa yang terpenting adalah kepemimpinan yang kuat pada BNPB. Seperti yang telah disampaikan dari delegasi negara Solomon yang telah memiliki kebijakan, dengan demikian kita dapat membuat networking dan mengidentifikasi kerjasama bilateral dan multi-lateral. Adapun hasil pertemuan ini akan dilaporkan ke pemerintahan masing-masing negara MSG.
Sebelum meninggalkan BNPB, delegasi melakukan peninjauan ke Pusdalops (Emergency Operation Centre) BNPB. **

Related posts