Tim Indonesia Bekerjasama dengan Masyarakat Satungal Dirikan Tenda



Satungal (5/5), Tim Indonesia yang terdiri dari TNI Angkatan Darat, tim kesehatan, BNPB bekerjasama dengan masyarakat Satungal mendirikan tenda rumah sakit mandiri di lokasi lapangan Desa Satungal. Tenda yang didirikan tidak hanya tenda rumah sakit mandiri tetapi juga tenda pengungsi .
Direktur Tanggap Darurat Junjungan Tambunan mengatakan bahwa pendirian tenda rumah sakit lapangan, merupakan kebutuhan masyarakat yang terkena dampak gempa Nepal yang baru terjadi minggu lalu. Pendirian tenda ini juga merupakan rekomendasi pemerintah Nepal dan MOFA. Hal ini sesuai dengan misi dari Tim Indonesia for Nepal yang memfokuskan diri dalam pelayanan medis dan pelayanan kesehatan.
“2 hari sebelum pemasangan, tim kita sudah melakukan assessmen dan juga atas kunjungan Duta Besar Bangladesh melihat lokasi tersebut dan melakukan dialog dengan pemerintah setempat diketahui bahwa mereka sangat mengharapkan untuk dibuatkan tenda rumah sakit lapangan ini. Atas dasar itu, hari ini didirikan tenda rumah sakit dengan melibatkan berbagai lapisan masyarakat dan pemerintah daerah setempat,” tambahnya.
Junjungan mengharapakan bahwa rumah sakit lapangan ini bisa beroperasi optimal  dan juga bagi pelayanan kesehatan. Kondisi saat ini rumah rusak berat, rusak sedang dan rusak ringan.
Tim dokter juga maksimal melakukan kegiatannya. Tim Indonesia Peduli Nepal terbagi 2 yaitu di RS. Kantipur  yang merupakan RS rujukan utuk operasi rumkit lapangan dan  tim dokter yang akan bertugas di rumkit lapangan.  JIa menghimbau bagi kelompok masyarakat atau organisasi yang bergabung di Nepal untuk bantuan kemanusiaan dapat berkordinasi dengan Indonesia Peduli Nepal untuk bantuan tenaga yang di rumah sakit atau di rumah sakit lapangan dan juga yang mobile. Pemasangan didampingi oleh tokoh masyarakat, kepala puskesmas desa Satungal, Kepala desa ,kepala distrik dan juga perwakilannya dari Rumah Sakit Kantipur.
Sementara itu, Victor Johnathan Rembert dari Disaster Research Partnership (DRP)menegaskan bahwa pengelolaan bencana harus melibatkan semua, disaster is every people business. Masyarakat akan dapat memperkuat ketangguhan/resilience mereka jika bahasa yang digunakan dalam penanggulangan bencana mudah dimengerti oleh masyarakat setempat. (ayu).



Related posts